MITOS MOOI INDIE

MITOS MOOI INDIE



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | MITOS MOOI INDIE.

Fenomena lukisan pemandangan di Indonesia sesungguhnya sejarahnya dipengaruhi oleh para pelukis pendatang dari Belanda dan Eropa awal abad 20, yang secara mapan ditandai dengan berdirinya Lembaga Nederlandsch Indische Kunstkring, 1902

Di kemudian hari golongan lukisan pemandangan ini disebut sebagai Mooi Indie atau Hindia Molek : cantik, indah, estetik dan sebagainya. Di masa revolusi, gaya lukisan ini mendapat tanggapan sinis dari pelukis pribumi kelompok Persagi, karena dianggap tidak mencerminkan spirit kerakyatan, perjuangan dan kebangsaan.


MITOS MOOI INDIE


Di tengah suasana dan maraknya lukisan pemandangan masa kolonial yang dominan, Basuki Abdullah adalah salah satu pelukis populer yang konsisten menekuni gaya naturalis - romantis dengan teknik realis masa itu. 

Suatu ketika beliau mendapat beasiswa untuk belajar di Akademi seni rupa ke negeri Belanda. Selesai studi, ia membawa pulang ilmu seni dan pengaruhnya ke Indonesia. Banyak karyanya melukiskan tentang pemandangan alam Indonesia yang eksotik, indah dan menarik. 

Pada sekian karya lainnya melukiskan sosok figur atau tokoh-tokoh penting dunia dan karenanya beliau didapuk sebagai pelukis Istana Merdeka.

Mitos Mooi Indie


Dengan penguasaan tekhnik yang luar biasa, prestasi dan penghargaan. Basuki Abdullah adalah salah satu legenda kunci seni rupa modern Indonesia bersama Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan dan sejumlah seniman di masanya dan masa sebelumnya.

Beberapa kecenderungan visual dan gagasannya mengadaptasi gaya seni lukis aliran romantisme ; yang menggambarkan suatu peristiwa atau tragedi. Sehingga ada beberapa karyanya bernuansa romantik sekaligus beraroma magis. 

Dengan ciri khas melebihkan-lebihkan subyekmatter : memperindah - mengestetisasi, mendramatisir, bersifat irasional, fantasional bahkan absurd. Misalnya, judul karya "Jika Tuhan Murka" adalah salah satunya karya yang mengindikasikan sisi fantasional yang mengesankan citra surealistik dan absurd.

Sementara disela itu, karya-karya berakar romantik lain diantaranya melukiskan cerita legenda dan mitos adalah pada karya : Nyi Loro Kidul, Joko Tarub, Gatotkaca dengan Prigiwa dan Prigiwati, Perkelahian antara Rahwana dan Jatayu memperebutkan Shinta, Peperangan antara Gatutkaca dan Antasena dan sebagainya. 

Munculnya karya-karya adaptasi dari mitos atau legenda tersebut tidak lain dilatari oleh ketertarikan beliau terhadap pengalaman mistis dan kisah-kisah pewayangan Jawa, dimana sudah menjadi bagian dari kehidupan kesehariannya di Surakarta, Jawa Tengah.

Pada garis ini, Basuki Abdullah menunjukkan dirinya dilekati oleh watak tulen primodialisme kebudayaan lokal, tapi pada saat bersamaan ia kreatif menggubahnya, lalu merepresentasi ulang serat-serat tulisan itu menjadi bahasa visual yang dikontemporerisasi di masanya. 

Kemudian kisah-kisah yang luar biasa itu bisa ditafsir oleh budaya massa milenial sekarang, untuk selanjutnya kepada masa depan. Ini mungkin kesadaran beliau mengajak kembali memaknai pesan masa lalu yang diwariskan pada masa ini dengan menggali nilai-nilai moral dan etika yang secara implisit terkandung didalamnya.

Untuk itu, penting bagi masa kini yang diombang-ambing oleh gegap gempita modernitas dan semrawutnya intoleransi, agar tetap berpijak pada warisan budaya lokal, menghargai dan merawat kembali melalui atau berintegrasi bersama karya-karya seni kontemporer dengan semangat jaman saiki. Atau dengan sendirinya akan menjadi Mitos Mooi Indie.

Menafsir Basuki Abdullah





Basuki Abdullah adalah sebuah monumen yang menyejarah, raksasa seni rupa yang banyak menginfeksi dan menginspirasi sebagian pelukis pada umumnya. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Hampir sepanjang jaman jejak pengaruhnya dapat ditemui diberbagai tempat, dari lapak pelukis emperan, rumah gedongan, balai lelang, museum, sampai istana negara. Sekarang dalam pameran ini legasi Basuki Abdullah itu akan dimaknai ulang, dikontekstualisasikan dalam ruang kontemporer.

Dalam catatan kuratorial, Hendra membagi tiga aspek yang meliputi Profesional Apresiasi, Respon Kontemporer dan Sosial Humanisme. Professional Apresiasi dibaca sebagai harta karun simbol yang diasosiasikan dengan berbagai tafsiran oleh perupanya terhadap kisah mendiang Basuki Abdullah dan karyanya. 

Menurutnya, melalui pembacaan ini perupa disyaratkan berpijak dari karya atau penggalan kisah hidup sang maestro melalui bacaan biografi dan pengamatan langsung terhadap karyanya sebagai basis referensi tunggal lalu diperluas maknanya.

Sementara Respon Kontemporer, sengaja merujuk kepada artefak, yakni benda-benda istimewa, baik koleksi atau atribut yang dipakai oleh sang Maestro. Misalnya ; sepatu, senapan, pistol jenis revolver, pakaian dan lainnya. 

Artefak-artefak ini bagi perupa yang meresponnya lebih mengacu pada sosok pribadi Basuki yang parlente, megah, berkelas dan elit. Artefak lampau tersebut merupakan penanda yang mengantarkan perupa pada gagasan dan visual dengan simbol yang dikontemporerisasi.

Pemaknaan ini muncul sangat kuat dalam karya Adelano Wibowo, dia melukiskan sebuah Cangklong rokok yang mengalami hibridasi dengan pelatuk pistol dan lipstik yang menandai sang maestro sebagai seorang pengagum wanita, kegagahan dan kesiagaan. 

Berikutnya, karya berbentuk sepatu dengan batu-batu yang bertuliskan Moi Indie, Realisme, sebuah tanggal, tahun kelahiran dan tanggal kematian yang dihadirkan Dwi Rust mengantar kita pada kilasan jejak-jejak momentum, tragedi, pemikiran dan mekarnya gaya Hindia Molek.

Artefak selanjutnya berupa senapan yang digambarkan Janitrasafa dengan gaya pop ekspresionis. Diujung senapan keluar bunga mawar yang memanifestasikan beliau sosok flamboyan dan pecinta ulung. 

Lain lagi dengan perupa Wahid (ini perupa kelas Wahid) yang merefleksikan sebuah tragedi dengan menyimbolkan dua figur manusia dan satu impresi face up Basuki dengan background warna emas dan topi legendnya. Dengan tekstur kuat dan garis yang tegas, karya ini menangkap tragedi hidup sang maestro yang tragis, ia dirampok dan dibunuh oleh tukang kebunnya sendiri, beserta komplotannya. Pancen konsep kelas Wahid.

Sementara yang dikategori sosial humanisme mengandaikan sisi lain dari keunikan sang Maestro, yakni kecakapannya dalam mengeksplorasi nilai-nilai kemanusiaan, mitos, legenda dan kekagumannya akan yang indah atas alam, yang kemudian disebut Moi Indie. 

Salah satu karya yang menangkap tentang spiritnya Mooi Indie terdapat pada karya Mayek Prayitno yang schizofrenik, menurutnya bahwa karya-karya seni rupa kontemporer sekarang dengan kesegaran dan kegenitan warna, riang dan ringan, yang enak dilihat dan memanjakan mata tak lain adalah "evolusi" dari Hindia Molek.

Bagian lain, naluri sosial Basuki terdapat dalam karya-karyanya yang disimbolisasi melalui figur-figur manusia, seperti pada lukisan 'dua anak', orang tua yang menggendong karung dipunggungnya, Bunda Theresa, seorang perempuan disebuah rumah gubuk dan lain-lain. 

Respon sosial ini tampak dielaborasi oleh Asmoadji yang memvisualkan rangkaian instal rumah kayu gubuk dengan masif ditempel didinding. Dalam fenomena kota Jakarta, rumah kayu ini biasanya terdapat dibantaran kali. Asmo menangkap empati Basuki dengan cara yang unik, ialah kenyataan sosial.

Sejalan dengan itu, Rengga sebagai kurator, mencatat : "Basuki ogah terjebak dalam stereotip kacangan yang cenderung mencari kejayaan diatas sebuah tragedi atau penderitaan". Masih menurutnya : "beliau mengisyaratkan rasa optimisme, harapan, perbuatan dan upaya-upaya".

Empati lain Basuki juga dimaknai ulang oleh Arianne Kresandini perihal "asmara". Beliau adalah seorang pecinta, pengagum kecantikan. Arianne melihat hal itu sebagai kekuatan dengan menggunakan metafora bentuk hati berwarna merah dan sisa selongsong peluru. Karya ini mengesankan betapapun kekuatan cinta, biarpun diberondong peluru, ia akan tetap kukuh dan teguh. Hanya cinta yang mendamaikan dunia yang rumit ini.

Seperti yang ditulis Rengga lagi dalam catatan kuratorialnya : beliau (Basuki) berujar "bahwa seni dan budaya bisa menggantikan senjata untuk menciptakan perdamaian dunia". "Perdamaian dunia tidak perlu lagi pakai senjata. Senjatanya adalah kebudayaan". 


 
Pameran Museum Basoeki Abdullah
 (Untuk Mengetahui karya-karya pelukis, download e-catalog di bawah ini)  





Dari itu, Tunggul merespon aspek humanisme, dengan membayangkan kebudayaan dalam kondisi utopian tapi ambigu, yakni terpenuhinya kehidupan egaliter, yang dengan itu nilai kemanusiaan dicurigai sebagai sesuatu yang heroik dan memiliki bias. 

Rasa skeptis dan kritis ini kemudian direalisasi melalui bentuk figur manusia bersayap dan bertopeng. Diibaratkan sebagai super Hero atau super human yang sanggup menyelamatkan hidup manusia, mimpi dan harapan ditengah wabah Covid 19. Dengan sedikit fantasi, konten ini bisa dideteksi pada karya-karya Basuki yang bernuansa mitologi atau manusia-manusia yang memiliki kesaktian.

Tradisi mitologis masyarakat Jawa diadaptasi Basuki dalam karyanya yang berjudul Joko Tarub sedang mengintip bidadari mandi, satu diantara mereka kelak jadi pasangannya. Karya ini mengisahkan hasrat, yang bila dikaitkan dengan karya Ray Rahma seperti mentautkan sebuah hasrat terhadap lawan jenis. Karya Ray mengusik dialog antar lawan jenis, yang tak lain adalah pasangan pujaannya sendiri.

Namun, setiap hubungan meniscayakan konflik. Karya Basuki berjudul Tumpah Darahku adalah satu-satunya karya abstrak beliau. Karya ini dibuat sebulan sebelum beliau meninggal, yang disangka subyek matter karya itu merupakan petanda bagi dirinya sendiri. Karya ini ditafsir ulang oleh Salma Annisa dalam propriasinya dengan judul Tumpah Darah, yang disimbolisasi gelas menumpahkan darah. Artinya, proses perjuangan apapun itu membutuhkan pengorbanan, bahkan harus mengucurkan darah.

Meskipun begitu, tidak ada satupun didunia ini yang abadi dan selalu meninggalkan perubahan yang bersifat immortality. Karya Rosita Rose yang berjudul Infinite Impermanance (sekilas yang abadi), mengetengahkan persoalan tersebut. 

Dia berpikir bahwa eksistensi yang dialami manusia mengalami ketidakterbatasan, sekalipun ditinggalkan oleh manusia itu sendiri, karena manusia datang dan pergi, berganti generasi. Dua sosok figur dalam karyanya seolah mendramatisasi karya Basuki berjudul "Ibu dan anak" sebagai rujukannya dengan posisi yang sama menggendongnya. Dia meneruskan eksistensi itu.

Sifat turunan manusia tidak bisa dipungkiri senantiasa selalu eksis disepanjang sejarahnya. Melalui perilaku, sifat baik dan buruk itu berpacu yang pada akhirnya menjadi kenangan. Perupa Fathur Ardiyansah mengenang bagaimana sifat Asih, Asah dan Asuh mendiang Basuki Abdullah sebagai orang yang memiliki kepekaan terhadap alam, hewan dan sesama manusia yang ia tengarai dalam karya-karyanya selalu bermunculan subyek matter figur, hewan dan alam. 

Fathur merepresentasi hal itu melalui gambaran seorang perempuan, figur manusia yang mendekap manusia lain, yang diumpamakan pemelihara kehidupan dan disampingnya berdiri tanaman sebagai simbol alam. Lalu keseimbangan.

Alam serta isinya merupakan satu keselarasan yang menaungi seluruh bentuk kehidupan, oleh Perupa Soegiharto disarikan dalam karyanya yang berjudul Mother of Earth. Bumi diibaratkan seorang ibu yang mampu menjaga dan memelihara dengan dilengkapi determinasi kesuburan. Demikian yang ia harapkan agar kehidupan dibumi jauh dari kerusakan dan hidup manusia terhindar dari bencana alam, sehingga dalam wujud karyanya ia menggunakan metafora figur manusia yang distilasi dengan bentuk akar pohon. Karya ini dipantik oleh karya Basuki tentang nature dan figur.

Sisi lain dari figur manusia adalah kehebatannya dalam memperdaya potensi diri dan adaptasi terhadap lingkungan ia hidup. Manusia memenuhi keharusan pada sebuah pekerjaan, yang menjadi bagian dari upaya mengaktualisasi diri secara kreatif. 

Pada tahapan ini, karya Sri Hardana menangkap suasana ruang kerja, bagaimana aktifitas pekerjaan tersebut membantu orang untuk tetap sadar atas kewajibannya terhadap pekerjaan, apapun itu. Ruang kerja, sama halnya studio seni, merupakan ruang dimana energi bekerja sama membentuk kebudayaan dari ujung pinggir. Basuki memulai pekerjaan kreatif itu dari ruang studio yang membawanya pada puncak seni rupa Indonesia.

Di Indonesia sendiri sejak awal tahun lalu dilanda wabah Virus Corona atau Covid 19. Virus ini menyambar hampir di seluruh dunia, menyebabkan banyak kerugian material, efek paranoid dan ratusan korban meninggal. 

Karya fotografi Rengga Satria menginfiltrasi peristiwa dramatik dari korban kematian Virus Corona dan tampak petugas yang sibuk mengurus peti mati dalam karya tersebut, serta ada serakan sarung tangan dan masker sebagai penanda pencegah penularan virus. Jepretan konten Rengga mengilustrasikan ketidakberdayaan manusia dihadapan ujian Sang pencipta hidup, pesan ini mengingatkan karya Basuki berjudul "Jika Tuhan Murka". Karya ini cocok jika dikontekstualisasi pada bencana wabah Covid 19. Wabah bisa jadi adalah kemurkaan Tuhan terhadap manusia.

Gagasan-gagasan "interteks" itu yang dikembangkan dan merujuk pada karya Basuki Abdullah, memiliki keunikan visual dan beragam sudut pandang masing-masing, merupakan bentuk kepanjangan akan hal yang telah dialami kini oleh para perupanya, dimaknai dengan cara berbeda lalu mengalir dan merembes. 

Para perupa ini menunjukkan bagaimana mereka merepresentasi sekaligus tidak terjebak dalam tafsir harfiah atau "verbal", yakni melukis ulang wajah dan sosoknya atau malah melukis pemandangan. Mereka tidak "melap-lap" sejarah, tapi "mendekonstruksi" dengan cara kini.

Pameran membingkai ulang Basuki Abdullah, sosial dan kemanusiaan ini diproduseri oleh Kilau Art Studio yang bekerjasama dengan Museum Basuki Abdullah Jakarta, diketuai Saepul Bachri S.sn lulusan ISI Yogyakarta dan di aransemen oleh Loca Institute, sebuah kelompok diskusi. Pameran seni rupa ini diikuti 15 perupa muda dengan berbagai latar pendidikan yang tergabung dalam Komunitas Kilau Art Studio yang berbasis di Jagakarsa, Jakarta Selatan.



0 Comments