RESAM DIJADIKAN SENI [PART 3]

RESAM DIJADIKAN SENI [PART 3]



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | RESAM DIJADIKAN SENI [PART 3].

Seni kontemporer dapat dinyatakan sebagai seni yang dihadirkan pada “hanya” hari ini, pada situasi kekinian, sekarang at “present time”. Seni kontemporer tidak memerlukan akar tradisi dan konteks sejarah yang manapun, ia bukan refleksi dari memori kolektif yang manapun, ia muncul sebagai spontanitas, respon terhadap naluri kreatif, seni kontemporer adalah cinta tanpa akar yang punya kemampuan untuk bertumbuh 

RESAM DIJADIKAN SENI [PART 3]


Seni kontemporer bukan saja dikenali dari indikator (tanda-tanda) estetika dan artistika, tetapi dari hadirnya yang berwujud dari rangsangan, respon ketertarikan, nyaris seperti cinta pada pandangan pertama, Apresiasi terhadap seni kontemporer kerap tidak membutuhkan Analisa seni yang klinis, karena orang modern punya waktu yang amat terbatas untuk berkontemplasi terhadap seni di tengah kesibukannya. Karya seni kontmporer ia bisa dinikmati begitu saja sebagai “Avant Tout”, kegelisahan yang dijawab denga kata sederhana, “ Aku suka, aku senang, aku bahagia bertemu dengan mu “. 

SEBAGAI BAGIAN DARI SENI KONTEMPORER 


Menjadi suatu kebutuhan bagi eksistensi seni kontemporer untuk terlepas dari ikatan lanskap sejarah kebudayaan ditempat dia berada. Dia bisa menjadi sosok “disruptif”, dia menjadi tidak terjebak oleh keharusan untuk berakar dan melestarikan “death culture”, dia berusaha untuk menggagas alternative sebuah masa depan. 

Seni Kontemporer menuliskan sebuah sejarah tentang masa depan yang imajinative. Kadang ia dibenci oleh tradisi yang melankolik, ia bias dianggap sombong angkuh oleh primordialisme, ia bias saja dianggap sampah visual pada lanskap yang dijangkarkan pada kegemilangan masa lalu. Seni kontemporer juga tidak merfleksikan secara naif “Living Culture”, dia berada pada ruang waktu yang imajiner destruktif, diantara ada dan tiada. 

Untuk memperlihatkan, mewujudkan instalasi seni kontemporer maka bias jadi dibutuhkan bahan baku yang bersifat kontemporer. Bisa jadi bahan baku itu punya akar tradisionalisme, sehingga harus ada novelity, kebaharuan konteks, dan itu menjadi tantangan yang benar-benar brutal terhadap kemapanan dogma, doktrin, paradigma, dan pengalaman budaya selama ribuan tahun. 

Kontemporerisasi Resam bias saja didefinisikan terlepas dari kontemplasi medidatif terhadap Tuhan, sebagai sebagai hanya pemuas dahaga akan refleksi dan ekspresi seni. Yang menarik, ungkapan masyarakat Desa Suka Maju, “ Kalo dak ado lagi duit, Resam tu lah biso di jual”. Resam begitu kontemporer hanya sebagai instrumen ekonomis. 



RESAM PADA LANSKAP KEBUDAYAAN MUARO JAMBI MODERN 


landskap  muaro jambi



Lanskap Budaya Kawasan Muaro Jambi Moderen memiliki orientasi mendekati jaringan jalan raya, sehingga secara naluriah, sesuai dengan ekosistemnya, sifat invasifnya, Resam menempati sisi kiri kanan dari jalan yang tidak di okupasi pemukiman. 

Namun demikian kehadiran Resam dalam bentuk perkakas, misalnya sebagai wadah, tas, atau perkakas rumah tangga lainnya belum terlihat, dan pennggunaan resam sebagai alternative tikar nipah dan substitusi tikar dari bahan plastic juga belum terlihat. Pemanfaatan resam dalam dunia kuliner juga belum terlihat. 

Dari pandangan yang sederhana ini lagi-lagi kita bias melihat ekosistem, keterletakan, sebaran, dan keberadaan benda-benda yang terbuat dari resam sebagai bagian kontemporer dari lanskap kebudayaan Muaro Jambi Modern. 

Adapun kompleks percandian Muaro Jambi modern sebenarnya adalah sebuah “Death Culture”, budaya dengan konteks religi Budhisme yang sudah ditinggalkan, sudah tidak berlangsung (vernacular), namun selalu ada upaya untuk menjadikan lanskap dan bangunan percandian ini sebagai identitas dari masyarakat Muaro Jambi, namun yang sesungguhnya terjadi adalah gabungan antara usaha pelestarian dan pemanfaatan Kawasan cagar budaya. 

ANCAMAN INVASI 


Perilaku resam yang invasive dan sifatnya sebagai gulma, serta reproduksinya melalui spora membuat resam tidak dapat begitu saja di budi dayakan. Okupasi resam pada ekosistem dengan jasa layanan lingkungan yang masih baik memberikan ancaman pada tegakan tanaman yang sudah ada. 

Pemanfaatan resam sebagai bahan baku kerajinan sebaiknya hanya berkaitan dengan kegiatan penaggulangan gulma di perkebunan karet, dan bagian dari usaha meremajakan ekosistem yang sudah rusak secara terbatas untuk menjaga agar tidak terjadi ledakan populasi resam. 



RESAM DAN PROXIMIC INSTALASI SENI DI KAWASAN CANDI KEDATON 


Project ini menempatkan instalasi seni berbahan resam di depan Sungai Seno pada seberang Sungai Kedaton; penempatannya memenuhi aturan pemanfaatan pada Kawasan penopang. Dan dalam proses instalasinya diawali oleh pengamatan permukaan yang menunjukan permukaannya steril dari artefak. 

Yang menjadi amat menarik, bahwa lokasi instalasi tersebut memberikan pandangan akan adanya dua lanskap kebudayaan, yaitu lanskap kebudayaan klasik yang di jangkarkan pada Candi Kedaton yang berorientasi pada budaya sungai, dan instalasi seni Harmoni(S) yang berada pada lanskap Muaro Jambi modern yang berorientasi pada infrastruktur jalan raya. Dua lanskap kebudayaan itu berdekatan tetapi tidak bersentuhan, dan Sungai Seno menjadi media yang merekatkan ruang dan waktu yang terpisah amat jauh itu. 

Arah hadap Instalasi Seni Harmoni(S) adalah Utara 137 Timur, atau mengarah Barat Laut Tenggara, sementara Candi Kedaton memiliki arah hadap Utara Selatan. Arah hadap yang kontras ini juga menunjukan adanya space and time frame yang berbeda, sebuah kontras proxemic. 

Yang perlu mendapatkan intepretasi lebih mendalam adalah bahwa sesungguhnya kompleks percandian itu sendiri merupakan issue kontemporer di masanya, ada arsitektur dan konsep kosmologi Budhisme yang berasal dari daratan Asia di bawa ke Muaro Jambi pada abad ke 7, dan hal itu kembali di ulangi oleh instalasi seni Harmoni(S) di abad ke-20. Konsep dan pemikiran kontemporer adalah adaptasi sekaligus alternative akan kemungkinan di segala jaman. 

Pemandangan Proximic dan Orientasi yang berbeda antara kompleks atau lanskap percandian Muaro Jambi dan Instalasi Seni Harmoni(S) memberikan pesan kepada public tentang adanya pergeseran orientasi sungai menuju orientasi infrastruktur modern (jalan raya). 

Usaha yang dilakukan juga dapat menjadi suatu prototipe akan pemanfaatan Kawasan penopang Cagar Budaya sebagai Ruang Publik dengan pengkayaan seni rupa, dan kegiatan yang nelibatkan partisipasi multi cultural, multi disiplin, dan dari berbagai konteks social budaya yang berbeda: ruang public dengan kegiatan menjalin kebhinekaan dalam ruang, waktu dan konteks kontemporer. 


(Penulis Hendra, Credit Images : Rengga Satria, Zulhidayah)


0 Comments