PAMERAN BANGUN JIWA

Pameran Bangun Jiwa



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | PAMERAN BANGUN JIWA.

Bangun Jiwa


Waktu pameran :  

26 Desember 2020 - 10 Januari 2021

Pembukaan berlangsung :

Sabtu, 26 Desember 2020
Pukul. 14.00 WIB
Ds. Sabrangrowo Jl. Rakai Pikatan No. 1 Borobudor, Magelang, 
Jawa Tengah

Pameran akan dibuka oleh:

Taufik Hidayat

Penulis:

Mayek Prayetno

Seniman:

  • Amin Surya 16, 
  • Andika T, 
  • Agung Nugroho, 
  • Bima Arindra, 
  • Bimo Tejo, 
  • Bus, 
  • Choirudin, 
  • Dadi Setiadi, 
  • Danang Catur, 
  • Dewi Marena, 
  • Djafar, 
  • Dr. U, 
  • Imam Juni, 
  • Ismanto Wahyudi, 
  • Lutfi Saputro, 
  • Maliq Dida, 
  • Mayek Prayetno, 
  • Ndaru Mw, 
  • Nugroho Heri Cahyono, 
  • Nugroho Wijayatmo, 
  • Septi Asri Finanda, 
  • Slamet Haryanto, 
  • Suryadi Suyamtina, 
  • Supono, 
  • Teoktista, 
  • Wahyu Catur N.

Support By:

@polahgrafis1
Bangun Jiwa
@othertatto_

Media Partner:

@pt.semanggi
@tanambuku_studio

PENGANTAR PAMERAN BANGUN JIWA


Bangunlah jiwanya

Raga tempat semayamnya Jiwa (nyawa/roh/pikiran/mental) tidak bisa lepas dari keterlibatan aktivitas manusia dalam hidup keseharian, di mana pun dan kapan pun, tidak sedetik pun absen. Jiwa senantiasa menyertai, hadir, berorientasi pada masa lalu, kini dan masa depan. Jiwa adalah energi  kehidupan yang hanya terhenti oleh kematian raga.

Spirit jiwa manusia tumbuh oleh proses dan gejala kehidupan dari waktu ke waktu dalam wujud janin, kelahiran, masa infantil, remaja, dewasa dan orang tua. Setiap periode dari itu tersisip masa-masa rentan yang butuh perhatian dan perlakuan, yang sejak semula berindikasi lemah, perlahan diasah oleh lingkungan dan dipaksa bertahan hidup ditengah kompleksitas kehidupan. Sepanjang waktu, jiwa mengalami perubahan dengan bawaannya yang rapuh dan rentan oleh rasa cemas atau kegalauan.

Rasa cemas atau kebimbangan yang dialami setiap orang di millenium kedua ini merupakan produk warisan modernitas dengan watak industrialnya, di mana tuntutan gaya hidup menjadi hal yang utama dan harus dipenuhi. Dengan sendirinya membuat mereka terus berkejaran, berusaha memenuhi setiap hasrat, memupuk individualisme, membentuk narsisme, berperan ganda, pemenuhan tanggung jawab dan moralitas.

Hal ini justru menciptakan kekosongan jiwa dan rasa kesepian, kebutuhan akan pengakuan, rasa hormat, martabat dan eksistensi diri mereka sendiri, sehingga mereka mencari cara untuk mengisi kesunyian hidup dengan banyak kesibukan, bekerja, workout, liburan, kuliner, bersosialisasi, selfi, prestasi, bersenang-senang atau lebih purna mengasah spiritualitas dan menyentuh religiusitas.

Jiwa yang dari dulu menjadi perdebatan filosofis, tak kunjung juga jelas jluntrungannya. Ia mungkin entitas universal yang unik dan ambigu, memuai, tak berbatas dimensinya, misterius, rasional, aneh, agresif, ambisi, hasrat luar biasa, potensial, kelebihan bakat, berbeda dan kecenderungan naluri yang dilekati determinasi sifat manusiawi. 

Sifatnya yang tidak berubah secara esensial selama ribuan tahun ini, menjadi obyek pengetahuan yang terus digali, diubek-ubek sampai sekarang dan karenanya merongrong rasa ingin tahu manusia untuk menjadi lebih beradab. Jiwa bisa dikatakan segala sesuatu yang dialami dan yang menggerakkan manusia, namun ia selalu luput dari kehidupan sehari-hari itu sendiri.

Kehidupan sehari-hari orang pada umumnya memiliki kemiripan-kemiripan dalam banyak hal. Berbagai persoalan, tekanan pekerjaan dan repetisi rutinitas selalu datang silih berganti tanpa kompromi, yang kesertamertaannya mempengaruhi kondisi psikis, bahkan kadang kala atau lebih seringnya mengakibatkan stress, kecemasan dan kebimbangan. Disaat seperti itu goncangan jiwa mendapat ujian sekaligus tantangan dan bagaimana orang menghadapinya bergantung pada sikap mereka sendiri.

Pada waktu kini, seluruh dunia mengalami perubahan orientasi yang disebabkan oleh pandemi virus Corona. Ada rasa takut tertular dengan dibayangi teror kematian dan obsesi hidup bersih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Buntut dari itu, perilaku menjaga jarak posisi antar orang, pemakaian masker dan cuci tangan menjadi tradisi dadakan yang dipraktikkan dalam keseharian. Pola baru yang disangka sanggup mencegah penularan ini, dengan sendirinya menimbulkan paranoid, kecemasan sekaligus ketidakpedulian, terlebih dipengaruhi oleh media sosial.

Kekhawatiran yang tidak jelas tersebut berdampak pada aktivitas kerja mereka dalam mencari nafkah. Berkurangnya penghasilan menjadi keluhan hampir setiap orang dan mereka mencari jalan yang memungkinkan mendapat penghasilan tambahan. Apapun yang menghasilkan dikerjakan demi bertahan hidup. Sebab cara mereka mencari nafkah sebelumnya sudah terikat oleh sistem yang mengharuskan mereka tunduk dan manut. Setiap jejaring simbiosis ekonomi terkait satu sama lain, sehingga mereka tidak bisa berbuat banyak. 

Tapi manusia tak habis akal, kondisi yang mendesak justru memancing strategi kreatif dalam mendorong produktivitas dan kemampuan bertahan hidup. Teknologi android berbasis online sering kali jadi pilihan dalam kebutuhan promosi dan distribusi benda atau jasa apapun untuk berupaya terus mencari peruntungan.

Tapi sisi lain, banyak pula yang mendapat kesulitan dan kebuntuan-kebuntuan sehingga mereka semakin terpuruk lalu menyerahkan hidupnya pada nasib dan takdir, tanpa diperjuangankan. Bahkan sengaja melibatkan diri dalam proyek radikalisme yang sedang marak. Mengais dari sisa-sisa keberuntungan dan sedekah dari teman, keluarga, tetangga sampai pemerintah.

Ini memperlihatkan bagaimana bagian gambaran jiwa manusia yang tertekan akibat dari rapuhnya masyarakat hedon, matrealis, haus kebanggaan, putus asa, lalu lari mencari kekuatan abadi yang melembaga dalam agama. Kita secara nyata menyaksikan goncangan Jiwa itu, yang dibebani oleh banyaknya kebutuhan hidup, namun terus menerus bekerja dan belum berhenti menyerah. 

Meski diselimuti oleh kecemasan akut yang tak tahu kapan pandemi berhenti atau berlalu, jiwa manusia selalu berevolusi dan selamanya menaruh harapan-harapan baru bagi semua orang dimasa sekarang, besok dan hari-hari depan. Hari ini jiwa manusia bergegas beradaptasi dengan cepat dan tepat, merevolusi dirinya, membangun jiwanya, menyehatkan raganya, berguna bagi nusa, bangsa dan tetangga.

Dalam semangat pandemi, pameran seni rupa ini mencoba untuk mendedah jiwa-jiwa yang meronta dan mendorong batas-batas kesadaran artistik di ujung tahun. 

(Oleh : Mayek Prayitno)

0 Comments

Newest