RESAM DALAM SENI KONTEMPORER [PART 2]

RESAM DALAM SENI KONTEMPORER [PART 2]



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | RESAM DALAM SENI KONTEMPORER [PART 2].

Resam atau dikenal dengan nama ilmiah Dicranopteris Linearis adalah tanaman gulma yang banyak tumbuh di hutan sekitar Jambi. Tanaman ini yang kemudian menjadi salah satu bahan material utama dalam pembuatan karya seni kontemporer berukuran raksasa (Gigantik) Harmoni(s) yang dibangun di area Muaro Jambi.

RESAM DALAM SENI KONTEMPORER [PART 2]


Jika di postingan sebelumnya, membahas tentang Etimologi dan ekosistem resam, artikel ini akan membahas tentang dampak resam terhadap lingkungannya, dalam hal ini yang terjadi di Muaro Jambi. 

KERAJINAN RESAM DI KABUPATEN MUARO JAMBI


Resam Di Kabupaten Muaro Jambi


Karena konteks ekosistem kontemporer nya, dan kedekatan manusia dengan tanaman berbiji dari pada tanaman ber-spora, maka dapat mudah dipahami bahwa Resam bukan termasuk bahan baku kerajinan jalinan dan anyaman yang popular di Kab.Muaro Jambi. 

Pada Kompleks Percandian Muaro Jambi tidak didapatkan adanya baik local genius, komunitas, dan kerajinan Resam, hal ini memberikan aspek bahwa Resam adalah bahan baku yang kontemporer, tidak berakar pada tradisi masyarakat Kab. Muaro Jambi pada Kawasan percandian (Cagar Budaya nya). 

Di Desa Suka Maju, tempat di mana material buluh Resam dijalin dalam project ini, juga tidak didapati adanya pemanfaatan resam secara meluas, kecuali sedikit anggota masyarakat dalam lingkup pembinaan dari tokoh masyarakat. Seperti Pak Abdi Nur yang menekuni kerajinan Resam ini. 

Resam belum menjadi subyek dari spesialisasi profesi yang berdedikasi penuh pada Resam, pendapatan yang diperoleh dari kerajinan ini masih bersifat musiman.

KEBERLANGSUNGAN DAN KEBERLANJUTAN 


CLICK IMAGE TO DOWNLOAD EBOOK ABOUT DICRANOPTERIS (RESAM) VIA PDF



Meskipun apa yang akan ditampilkan adalah sebuah hal yang “kontemporer”, sekejap kekinian, tetapi Resam harus tetap di dorong untuk menjadi bagian dari keberlangsungan hidup; memajukan kesejahteraan umum, dan beperan dalam keberlanjutan; mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Resam punya alternative untuk diposisikan sebagai komoditas baru yang memberikan dampat positif pada peningkatan pendapatan penduduk. Jika Resam diartikan sebagai sumber daya maka pertanyaan yang mengikuti adalah soalan produktifitas, ada dan bagaimana Resam diletakan dalam fungsi produktifitas perorangan, komunitas, dan masyarakat. 

Keberlangsungan hidup dalam kebudayaan harus nyata dalam usaha dan upaya untuk mendapatkan, memelihara, dan meningkatkan “nafkah” dalam pengertian yang lebih luas dari sekedar “pendapatan”. Dengan demikian keberlangsungan hidup itu jadi sebuah identitas yang sungguh mencermikan etos kerja sebagai identitas. 

Keberlangsungan hidup tersebut bisa diartikan sebagai budaya “merantau” bagi pria, untuk bekerja di kebun, pabrik, atau segala jenis mendapatkan dan memelihar nafkah yang diikatkan pada norma, etika, dan fungsi primordial pria sebagai keluarga. Maka Resam, lebih bisa berikatan dengan “kerajinan kaum perempuan”, ketangguhan dan ketelitian kaum perempuan, kohesi social kaum perempuan, dan ini nampak pada pengamatan kami di Desa Suka Maju akan keterlibatan Ibu-ibu perajin di Muaro Jambi. 

Keberlanjutan hidup dapat diartikan sebagai perkembangan, pertumbuhan, perluasan dari keberlangsungan hidup yang menciptakan peradaban maju, aksi local dengan wawasan global, terlibat pada issue global seperti perlindungan terhadap ekosistem, gender, dan produktifitas-konsumsi yang bertanggung jawab. Maka Resam dapat mengambil peran yang lebih jauh apabila dilakukan penelitian, pemuliaaan, dan perluasan aplikasinya baik dalam dunia Seni Rupa, Kerajinan, dan akhirnya pada Industri, Manufaktur yang berbasis ekonomi kemasyarakatan, dari Ekonomi Kreatif tradisional menjadi Ekonomi dalam wawasan internasional (sebagai komoditi berharga tinggi, dan menjadi bagian dari program mengurangi plastic misalnya).

SEBAGAI BAGIAN DARI SENI KONTEMPORER 


PEMANFAATAN RESAM DALAM SENI



Seni kontemporer dapat dinyatakan sebagai seni yang dihadirkan pada “hanya” hari ini, pada situasi kekinian, sekarang at “present time”. Seni kontemporer tidak memerlukan akar tradisi dan konteks sejarah yang manapun, ia bukan refleksi dari memori kolektif yang manapun, ia muncul sebagai spontanitas, respon terhadap naluri kreatif, seni kontemporer adalah cinta tanpa akar yang punya kemampuan untuk bertumbuh 

Seni kontemporer bukan saja dikenali dari indicator (tanda-tanda) estetika dan artistika, tetapi dari hadirnya yang berwujud dari rangsangan, respon ketertarikan, nyaris seperti cinta pada pandangan pertama, Apresiasi terhadap seni kontemporer kerap tidak membutuhkan Analisa seni yang klinis, karena orang modern punya waktu yang amat terbatas untuk berkontemplasi terhadap seni di tengah kesibukannya. 

Karya seni kontemporer ia bisa dinikmati begitu saja sebagai “Avant Tout”, kegelisahan yang dijawab dengan kata sederhana, “ Aku suka, aku senang, aku bahagia bertemu dengan mu “. 

Menjadi suatu kebutuhan bagi eksistensi seni kontemporer untuk terlepas dari ikatan lanskap sejarah kebudayaan ditempat dia berada. Dia bisa menjadi sosok “disruptif”, dia menjadi tidak terjebak oleh keharusan untuk berakar dan melestarikan “death culture”, dia berusaha untuk menggagas alternative sebuah masa depan. 

Seni Kontemporer menuliskan sebuah sejarah tentang masa depan yang imajinative. Kadang ia dibenci oleh tradisi yang melankolik, ia bias dianggap sombong angkuh oleh primordialisme, ia bias saja dianggap sampah visual pada lanskap yang dijangkarkan pada kegemilangan masa lalu. Seni kontemporer juga tidak merefleksikan secara naif “Living Culture”, dia berada pada ruang waktu yang imajiner destruktif, diantara ada dan tiada. 

Untuk memperlihatkan, mewujudkan instalasi seni kontemporer maka bias jadi dibutuhkan bahan baku yang bersifat kontemporer. Bisa jadi bahan baku itu punya akar tradisionalisme, sehingga harus ada novelity, kebaharuan konteks, dan itu menjadi tantangan yang benar-benar brutal terhadap kemapanan dogma, doktrin, paradigma, dan pengalaman budaya selama ribuan tahun. 

Kontemporerisasi Resam bias saja didefinisikan terlepas dari kontemplasi medidatif terhadap Tuhan, sebagai sebagai hanya pemuas dahaga akan refleksi dan ekspresi seni. Yang menarik, ungkapan masyarakat Desa Suka Maju, “Kalo dak ado lagi duit, Resam tu lah biso dijual”. Resam begitu kontemporer hanya sebagai instrumen ekonomis. 


Bersambung Ke Part 3 >>


(Penulis Hendra Ishander, Credit Images : Rengga Satria dan Zuldayah)

0 Comments