PROSES PENCIPTAAN KARYA SENI

PROSES PENCIPTAAN KARYA SENI



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | PROSES PENCIPTAAN KARYA SENI.

Sabtu, 28 November lalu Misteri Seni mengadakan webinar melalui Zoom meeting yang diikuti tak hanya mahasiswa dari Universitas Brawijaya saja, tapi juga dari umum. Dan berikut ini hasil bahasan tentang Ritual Seni Kreatif yang ditulis oleh Mayek Prayitno

PROSES PENCIPTAAN KARYA SENI




Karya seni rupa merupakan hasil dari hasrat manusia yang paling purba. Naluri merupa ini berkelindan dengan cara mereka hidup atas sebuah harapan dan kecemasan, yang di masa lalu digambarkan melalui tembok-tembok gua : digores, dicetak, diwarnai dan menggunakan ritual tertentu. Lalu tumbuh sebagai kebutuhan estetik, menyokong peradaban dan kebudayaan. 

Di masa sekarang karya seni diposisikan  vitalitasnya sebagai aset budaya dan penanda identitas sebuah bangsa, selain menjadi produk kapital. Gejala ini, mendorong produktivitas penciptaan karya seni dan konsistensi peran seniman dalam membentuk ekosistem seni rupa dan kesadaran perupa terhadap lingkungan masyarakat, niscaya bertetangga, berhadap-hadapan, seiring, kadang bertolakan. Dengan demikian, bahwa bagaimanapun proses berkarya seni seorang seniman selalu dilatari oleh lingkungan sekitar melalui pergulatan psikis yang secara inheren dilekati kreativitas dan kebebasan.

PROSESI KARYA SENI DAN DIMENSI PSIKOLOGISNYA


Apa yang terjadi dalam proses itu, tak lain berasal dari aktifitas mental subjek seniman yang diproyeksikan keluar melalui modus presentasi berupa objek, yang ditangkap oleh pengalaman empiris, imajinatif dan esoterik yang disaring, diasosiasikan, lalu direpresentasikan ulang melalui bentuk-bentuk simbolik, metaforik atau sarkastik. 

Dasar dari proses mental ini, sesungguhnya bermula dari Hasrat, tempat segala insting, naluri dan kesenangan yang membutuhkan pemuasan. Kehendak Hasrat direalisasi oleh Ego, sumber munculnya kesadaran yang mewujud dalam realitas. Sementara ketegangan antara Hasrat dan Ego, mendesak keluar Superego yang diatributkan oleh moralitas, hati nurani, baik buruk, keindahan, spirituallitas, religiusitas atau hal ideal lainnya, yang mengontrol Hasrat dan Ego.

Peta psikis tersebut, saya pinjam dari Psikoanalisanya Freud untuk mendeteksi proses berkarya seni. Bahwa, hasrat merupakan gairah, modal dari segala terpendamnya citra, harapan, imajinasi, mimpi, memori, ide, inspirasi, kreatifitas dan lainnya yang terdampar dalam alam bawah sadar. 

Ide atau gagasan berupa serpihan citra imajinatif itu diperantarai oleh Ego, yakni kesadaran yang secara nyata merealisasikan elemen seni rupa menjadi karya seni. Hasil dari proses tadi dimuati makna, keindahan, kekosongan, idealisme, nilai, bahkan pesan moral yang disebut Superego tersebut. 

Gampangnya, hasrat atau gairah kreatif diwujudkan oleh kesadaran dalam bentuk karya seni yang selanjutnya tersemat makna atau suatu nilai. Jadi proses itu memiliki aktifitas mental yang berantai dan terhubung satu sama lain. Sehingga memberi kita gambaran secara deskriptif, tentang bagaimana aktivitas mental bekerja dalam memproses karya seni yang kemudian mengandung nilai dan konsep itu muncul.

Ada banyak kemungkinan imaji diluar ekspektasi yang mengejutkan dan tak terpikir, menumpuk dilantai dasar alam bawah sadar, yang terakumulasi dan tidak teridentifikasi, terproses dalam impuls sistem syaraf yang mendistribusi signal neuron didalam otak dengan citra samar-samar. Dalam peredaran distribusi rangsangan tersebut pada akhirnya mendorong kesadaran keluar. 

Karenanya, intensitas dan kepekatan terhadap pengalaman inderawi yang mencerap sesuatu diluar dirinya dapat teridentifikasi dalam imaji atau citra kesadaran, pada mulanya adalah tumpukan, potongan atau serpihan-serpihan memori yang membentuk suatu kombinasi berupa konsep deskriptif dalam pikiran yang tak jelas.

DIMENSI PSIKOLOGIS



proses penciptaan karya seni rupa



Lalu bagaimana cara kerja jaringan mental yang kompleks tadi membentuk konfigurasi, dari koordinasi sel saraf yang menggerakkan insting seni dan naluri kreatif adalah sesuatu yang belum diketahui (unknown), alias ghaib. Sesuatu yang terberi (given).

"Keghaiban" pikiran ini, umumnya dapat diidentifikasi sebagai energi aktif atau insting hidup, semacam naluri alamiah yang tumbuh dan menggerakkan insting kreatif yang berasal dari masa purba, diwariskan kepada seniman masa kini. Dalam eksistensinya yang sadar, subyek seniman dibayangkan mampu mengelola potensi kreatif dan upaya penemuan jati diri melalui proses berkarya yang sesungguhnya, dengan mengkontekstualitas dirinya yang aktif, reaktif dan interpretatif. 

Dalam proses penciptaan karya seni sesungguhnya adalah ikhtiar kekhusukkan dan pergulatan batin yang bersifat transenden dalam kondisi tertentu. Ada suatu penghayatan dialogis antara pencipta dan subyek matter karya, ditengah proses itu terjadi ekstase.

Secara teknis, hasil proses itu tidak bisa hanya sekedar direduksi dalam bentuk elemen seni rupa dan kecanggihan teknik belaka atau sebatas dianggap gambar adalah gambar, lukisan adalah lukisan yang tidak memiliki sesuatu dibaliknya, tak ada yg lebih. Namun tersirat sebuah gagasan yang secara intrinsik mengkristal dalam bentuk rupa, bermuatan makna, dibebani pesan dan maksud tertentu, bahkan bisa jadi dinihilkan, sengaja tidak diberi pesan sebagai konsepsinya. 

Sejalan dengan itu, yang perlu diberi perhatian dalam proses berkarya adalah memiliki interest kuat pada gagasan atau ide tertentu, misal : tentang sejarah, antropologi, politik, sains, tekhnologi, hidup keseharian, curhatan personal atau hal sederhana lain. Dari salah satu pilihan narasi tematik, ide tersebut bisa dikembanglebarkan dengan tetap mempertahankan keterkaitan atau melompat tanpa terkait satu sama lain. Bersamaan itu, diikuti pemilihan jenis material serta kombinasi artistiknya. Dititik ini kreatifitas bekerja keras.

Pola praktik dan proses berkarya seni menurut tekhnisnya memiliki sistem yang tidak baku atau menggunakan suatu metode tertentu. Seni grafis, lukis dan patung adalah sekian contohnya. Disisi lain, proses berkarya seni juga terbuka dikerjakan secara acak atau tak teratur, yang cenderung kuat menonjolkan komposisi, sisi artistik dan penyajian. Ini bisa ditemui dalam karya seni kontemporer berupa instalasi, video art, performance art, asembling, steampunk dan lain-lain.

Terlepas dari cara-cara itu, proses berkarya bisa dimulai dari mana saja. Mungkin diawali dari konsep-gagasan atau rancangan sketsa, mungkin juga melakukan ritual atau perenungan terlebih dahulu. Sangat memungkinkan mendahulukan pengerjaan visual setelahnya disusul konsep / deskripsi karya. 

Banyak ragam cara tak terbatas yang belum muncul dipermukaan. Berbagai kilasan asosiasi ide dan tersedianya material atau temuan benda bekas, berpotensi dalam upaya mengembangkan kreativitas lebih lanjut. Sederhananya, konsep dahulu baru visual atau visual dahulu baru konsep gagasan, keduanya bisa dibolak-balik, dipertukarkan sesuai kebutuhan. Bebas.

Yang lebih menarik, sering kali gagasan meluncur begitu saja tanpa diundang, tak kenal situasi dan memaksa segera dieksekusi. Kadang pula perlu dipancing melalui aktivitas keseharian atau dirangsang dengan berbagai referensi visual dan buku sehingga menimbulkan inspirasi atau hal tak terduga lain. Ujug-ujug.


(Oleh : Mayek Prayitno)

0 Comments