PLAGIASI DALAM SENI RUPA KONTEMPORER PART 2

Plagiasi Dalam Seni Rupa Kontemporer Part 2



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | PLAGIASI DALAM SENI RUPA KONTEMPORER PART 2.


Plagiasi merupakan konotasi dari, atau sama dengan meniru, menjiplak dari sesuatu, mengcopy, imitasi. Plagiator adalah pelakunya. Sedangkan plagiasi bisa diartikan sebagai sifat dan tindakan meniru / menjiplak. Sifat manusia pada umumnya punya kecenderungan untuk meniru. Naluri meniru ini muncul sejak masa kanak-kanak, lalu dalam fase dan tahapan psikis sifat ini berkembang. 

 PLAGIASI DI TENGAH SENGKARUT SENI RUPA KONTEMPORER PART 2


Minggu sebelumnya, Global Forum Loca membahas tentang plagiasi yang marak terjadi di tengah sengkarut seni rupa kontemporer saat ini. Apa yang melatarbelakangi dan mengapa hal ini rawan terjadi, sebagian sudah dibahas dalam aspek pencarian jati diri dan juga Mimesis. Kali ini, lanjutan tentang Plagiasi yang bisa saja terjadi akibat dari benturan ideologi. 

BENTURAN IDEOLOGIS


Di persimpangan ini, seni rupa modern, seni tinggi ( Fine Art ) menemui benturan ideologisnya melalui kehadiran jenis seni progresif yang dipengaruhi aliran Dada dan gagasan Postmo. Bersamaan itu, kehadiran seni rendah, kriya, desain, arsitektur, seni pinggiran dan seni lain yang diayomi sebagai visual art, mendorong mengaburkan batas - batas territorial seni rupa.

Pada gilirannya, seni rupa modern mengalami perluasan, perkembangan, varian dan tantangannya sendiri. Kendati harus diikuti prasangka ambigu ; antara dilanjutkan dan diperlawankan dengan paradigma baru. 

Dalam menyerap respon itu, seni rupa modern segera beserta merta membuka diri. Tak hanya berubah dan bermutasi, tapi sekaligus dicangkok, dibajak, dipertentangkan dengan kondisi aktual posmo yang merumus idiom dan politik wacananya sendiri. Ia membenarkan kloning wawasan, gagasan dan karya seni, lalu bergerak membengkak, ditabrakkan, merambat bercabang, bersilangan, luber, merembes dan muncrat kemana - mana. 

Sesampainya terlempar di sana, ia telah mendapatkan keabsahannya dengan apa yang disebut jargon "Anythinggoes". Kebolehan menggunakan, memisah, mencampuraduk gagasan dan media apapun. 

Dengan kata lain, ekspresi seni tingkat lanjut (mutakhir) haruslah sebebas mungkin, merdeka. Entah dihinggapi konsep atau tidak, tanpa atau dengan ukuran etik dan estetik. Hingga kepada doktrin tentang salah atau benar tidaklah penting, bahkan ngejabani plagiasi yang dipermudah oleh akses tekhnologi. 

Ini seperti ingin mengatakan antara murni ekspresi dan balutan kepentingan atas kehendak. Semacam upaya sintesa yang mengangkut banyak hal, pemaknaan, serta potensi persoalan yang tumpang tindih. Tanpa disadari, gejala itu secara inheren mengandung tradisi "seni tinggi - seni murni" seni rupa barat, ketika proses berkarya masih melibatkan aktivitas mental, yakni religius - spiritual, kemudian sekarang diikuti kondisi sosiologi yang diberi pengertian baru, dengan label seni rupa kontemporer. 

Namun, dalam suatu perkecualian tertentu, praktik plagiasi tetap ditolak dan sulit dibenarkan. Nyatanya, kasus plagiasi ramai mendapat reaksi negatif dan memicu perdebatan publik seni rupa yang berbuntut karya tiruan tersebut diturunkan dari ruang pamer. Ini menjelaskan tentang adanya indikasi etika kolektif publik seni yang menjaga dan mengamati medan seni rupa dengan berharap pada kejujuran perupa, meski dalam prakteknya "liar". 


BANALITY ESTETIK

Just Evil karya ewafebri
Illustrasi oleh ewafebri

Kesengajaan meniru yang bermodal rasa suka tanpa argumen spesifik, signifikan dan sharing partner, bisa menjadi masalah dan ganjalan kreatif, di mana dunia seni rupa menuntut attitude dan kreatifitas tanpa batas. Gejala pendangkalan estetik ini bisa dibilang membawa titik nadir (banality estetik) kesadaran imajinatif dan "kemandulan" bagi proses penciptaan karya seni. 

Bahwa, meniru karya seni yang luput dari perhatian khalayak seni rupa atau memanfaatkan keterbatasan referensi publik adalah tindakan membodohi publik. Sekalipun meniru dan mengcopy menjadi konsumsi yang lumrah, ia tetap mendapat kritik, ghibah dan pertentangan - pertentangannya. Karena meniru tak menghadirkan kreatifitas dan edukasi, apalagi originalitas. Tapi justru mengesankan kebingungan gagasan dan nirkarakter visual perupanya. 

Di saat bersamaan, salah satu point menarik dari gagasan paradigma posmodern adalah menciptakan canon idiom bagi karya tiruan yang dikenali dengan istilah "Pastiche". Yang mendefinisikan praktik berkarya itu sebagai miskin kreatifitas, tidak original, tidak otentik, dangkal, pinjaman, imitasi murni tanpa pretensi. Semacam strategi teoritik yang menguatkan sifat plagiatifnya dengan muatan pasif dan kontraproduktif. Biang dari segala kemandegan yang memangkas kreatifitas tanpa dibubuhi dimensi pemikiran. 

Deskripsi di atas sesungguhnya memberi petunjuk dan pemaknaan yang tidak semantik agar terhindar dari laku peniruan atau rujukan pembenaran. Oleh sebab itu, apa yang terjadi terkait kasus plagiasi karya seni rupa di Indonesia, sama sekali tidak memiliki modus kreatif kecuali sebatas hasrat memenuhi industri dan itikad kehendak niru itu sendiri. 

Dengan demikian, mode penciptaan karya seni sengaja tidak dikondisikan adanya dorongan gairah "mencipta" atau mengkreasi dengan suatu tahapan. Misal : "pengamatan" disertai analisa - penelitian, olah pikir, aktivitas imajinasi, rancangan sketsa, perenungan atau ekspresi spontan yang muncul dari khatarsis dan lain seterusnya. Meniru hanya untuk meniru. 

Bagian lain yang tak kalah berpengaruh dalam praktik plagiasi adalah hegemoni dan tekanan pasar yang mendorong kreatifitas perupa untuk mencari jalan tikus dengan pola kerja cepat dan mudah. Efisiensi dan efektivitas menjadi keutamaan yang terukur dalam proses kreatif sehingga mempengaruhi proses produksi.

Ide harus diciptakan dengan cepat, sederhana dan "mengulang", tersedianya berbagai referensi visual di dunia maya dan dukungan perangkat tekhnologi. Dengan demikian modal peniruan / pemalsuan mudah dikerjakan. 

Dalam sunyi seni, praktik pemalsuan merupakan bisnis gelap berlipat keuntungan yang membayangi upaya pengoleksian dan dokumentasi karya seni. Bagi kolektor, hal ini akan menjadi ancaman dan merugikan investasi berharga mereka yang mengancam nilai-nilai otentik aslinya, yang sengaja dimanipulasi oleh pelaku pemalsu. 

Walau banyak praktik pemalsuan dan penjiplakan, bagaimanapun seorang perupa / seniman akademis atau non akademis, meniru akan selalu menjadi masalah yang pelik dan krusial. Tuntutan untuk inovatif, kreatif, konseptual, tanggung jawab dan penuh pemikiran merupakan keniscayaan.

Penting kiranya merasakan penetrasi ide untuk tetap ereksi dalam bergesekan dengan situasi dan kondisi kekinian menjadi otentikasi yang pantas dikelola dan menginspirasi sesama demi kemajuan seni dan budaya. 



(Penulis Mayek Prayitno)


0 Comments

Newest