DICRANOPTERIS LINEARIS (RESAM) DALAM SENI KONTEMPORER PART 1

DICRANOPTERIS LINEARIS (RESAM) DALAM SENI KONTEMPORER PART 1



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | DICRANOPTERIS LINEARIS (RESAM) DALAM SENI KONTEMPORER PART 1

Resam atau dikenal dengan nama ilmiah Dicranopteris Linearis adalah tanaman gulma yang banyak tumbuh di hutan sekitar Jambi. Tanaman ini yang kemudian menjadi salah satu bahan material utama dalam pembuatan karya seni kontemporer berukuran raksasa (Gigantik) Harmoni(s) yang dibangun di area Muaro Jambi. 

Mengapa resam ? dan apa peranannya dalam seni kontemporer ? 

DICRANOPTERIS LINEARIS (RESAM) DALAM SENI KONTEMPORER PART 1



DICRANOPTERIS LINEARIS (RESAM)



Narasi Resam di Ruang Kontemporer adalah sebuah Kurasi Seni Rupa Kontemporer pada Instalasi Seni yang diberi nama Harmoni(S) yang didasarkan pada lingkup: Resam sebagai elemen bahan baku penyusun instalasi tersebut, tinjauan latar belakang ekosistem Resam dalam lanskap kebudayaan Kabupaten Muaro Jambi, proses pemuliaan (sospitifikasi) Resam, dan kegiatan ekonomi kreatif, serta peran Resam sebagai elemen Seni Rupa Kontemporer.

NALURI KREATIF PURBA


DOWNDOAD KURASI RESAM VIA PDF
CLICK IMAGE TO DOWNLOAD EBOOK DICRANOPTERIS (RESAM) CURATION VIA PDF FILE



Manusia modern masih mewarisi naluri kreatif kepurbaan nya untuk merespon sumber daya alam yang ada disekitarnya, salah satunya adalah naluri untuk menjalin, menganyam, memintal, dan membentuk serat alam untuk dijadikan perkakas yang memudahkan Homo Sapiens dalam menghadapi tantangan untuk terus dapat hidup lestari dan berkelanjutan. 

Di kepulauan tropis, daun, pelepah, buluh, kulit kayu, telah diadapatasi dan direspon selama ribuan tahun oleh kebudayaan Melanesia dan Austronesia sebagai bahan baku yang bersentuhan dengan naluri kreatif, kemampuan adaptatif, akumulasi pengetahuan, dan transformasi ketrampilan kreatif menjadi aneka macam perkakas tradisional yang berfungsi sebagai wadah, alas (lapik, tikar, dll), dan bentuk hias-rias yang tidak terlepas dari mitos yang menghubungkan manusia dengan naluri religious dan pemenuhan atas pembentukan kohesi social yang membentuk modal social sekaligus modal sumber daya manusianya. 

Dalam project pembangunan instalasi seni Harmoni(S), naluri kreatif kepurbaan dan seluruh dimensi fungsional pembuatan perkakas dengan teknik menjalin dan menganyam tersebut akan diletakan sebagai elemen bahan baku yang menegaskan aspek kontemporer dari karya seni tersebut.

ETIMOLOGI INTERAKSI PTERODOPITA


Secara umum masyarakat lebih mengenal daun dan pelepah tanaman berbiji terbuka (gymnospermae) sebagai bahan baku dari berbagai kerajinan menjalin dan menganyam, seperti misalnya daun kelapa, daun pandan, daun nipah (rumbia), karena memang tanaman berbiji ini telah mengikuti perjalanan sejarah Homo Sapiens dari fajar kehadirannya pada era pasca kuater terakhir (1,6 juta tahun yang lalu). 

Hal ini sangat berbeda dengan respon manusia dengan tanaman pakis-pakisan, dengan Pterodopita yang sudah hadir sejak era Dinosaurus, ratusan juta tahun lalu, jauh mendahului tanaman berbijih. Pterodopita berkembang biak melalui medium “spora” yang sangat halus, berbeda dengan gymonspermae (tanaman berbijih) yang mudah dikenali secara visual oleh manusia. 

Karena kehalusan spora, manusia hampir tidak menyadari akan penyebaran dan persebaran dari pterodopita, dari pakis-pakisan ini, seolah-olah pakis hadir secara magis begitu saja pada hutan hujan tropis, sehingga keterhubungan manusia dengan mahluk indah ini tidak se intens dengan hubungannya dengan tanaman berbiji. 

Akibatnya adaptasi dan respon kreatif manusia dengan pakis-pakisan sebagai objek dari kerajainan menjalin dan menganyam tidak se-ekstensif dengan bahan-bahan yang berasal dari tanaman berbijih seperti nipah, pandan, kelapa, dan rotan.

EKOSISTEM KONTEMPORER RESAM



tanaman resam



Resam adalah bagian dari Genus Pterodopita, keluarga dari pakis-pakisan, tumbuhan yang melakukan reproduksinya melalui spora. Nama latin Resam adalah Dicanopteris linearis, sementara arti nama Resam tidak diketahui secara jelas pada rumpun Bahasa Austronesia.

Resam di Kabupaten Muaro Jambi hidup dalam ekosistem “kontemporer”, terutama pada Kawasan perkebunan karet atau pada ekosistem terganggu manusia. Resam dikenali sebagai gulma dalam Kawasan perkebunan karet, karena ikut menghisap zat hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan optimal tanaman karet; Resam di identifikasikan sebagai tanaman parasite invasive pada eksositem kebun karet. 

Resam juga terlihat tumbuh subur di tepian jalan, atau pada sisi tebing tanah runtuh, atau pada kawasan perkebunan yang tak terurus, atau pada hutan kuarter, hutan yang mulai muncul, mulai terlahir kembali dari kondisi ekosistem yang rusak; Resam diindetifikasikan sebagai tanaman pioneer, tanaman pembuka jalan bagi pemulihan lahan yang telah rusak. 

Di Kabupaten Muaro Jambi, Resam tumbuh pada jenis tanah entisols yang berasal dari lapukan Formasi Kasai yang berasal dari material volkanoklastika. Resam tumbuh subur pada entisols yang miskin zat organic dengan drainase yang buruk, akarnya melekat pada tekstur tanah yang didominasi oleh sifat argilik (lempungan), dan pada tanah yang lebih Pssamic (pasiran), sifat invasive agresive resam terlihat lebih jelas. 



Video Harmoni(s) Di Muaro Jambi


Pada pertumbuhannya, Resam membentuk tajuk yang unik, selalu membentuk dua horizon. Tajuk atas, horizon atas akan selalu berisikan Resam segar yang hijau subur, tumbuh bergerombol, menyebar secara latero-vertikal seperti jajaran bantal, amat nampak pertumbuhan Resam mengejar kebutuhan akan cahaya matahari penuh. 

Pada horizon bawah akan tampak Resam yang membusuk karena tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup, ranting lateral Resam membusuk, sementara batang resam yang menyalurkan air dan zat hari tetap tumbuh ke atas menopang, melayani suplai zat hara dan air pada tajuk atasnya. 

Resam terlihat amat subur di Desa Suka Maju, Kecamatan Mestong Kab. Muaro Jambi, karena luasnya hamparan perkebunan karet dan hutan tersier nya, sementara Resam tidak terlihat pada Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi, khususnya pada ruang hijau pada kompleks percandian Muaro Jambi.

Ini bisa menjadi sebuah indicator penting, bahwa kondisi eksositem Kawasan Cagar Budaya lebih memperlihatkan jasa layanan lingkungan yang lebih baik dari Kawasan sekitarnya, atau mungkin ketidak hadiran Resam di kompleks percandian karena jenis tanahnya yang cenderung bervariasi dari entisols menuju ultisols yang terbentuk dari lapukan formasi Muara Enim; hal ini membutuhkan penelitian tentang jasa layanan lingkungan dan resam sebagai indicator vitalitas ekosistem.




(Penulis Hendra Ishander, Credit Images : Rengga Satria)

0 Comments