PLAGIASI DALAM SENI RUPA KONTEMPORER PART 1

Plagiasi Dalam Seni Rupa Kontemporer



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | PLAGIASI DALAM SENI RUPA KONTEMPORER PART 1.


Plagiasi merupakan konotasi dari, atau sama dengan meniru, menjiplak dari sesuatu, mengcopy, imitasi. Plagiator adalah pelakunya. Sedangkan plagiasi bisa diartikan sebagai sifat dan tindakan meniru / menjiplak.

Sifat manusia pada umumnya punya kecenderungan untuk meniru. Naluri meniru ini muncul sejak masa kanak-kanak, lalu dalam fase dan tahapan psikis sifat ini berkembang. 

Plagiasi Di Tengah Sengkarut Seni Rupa Kontemporer #1



Sifat meniru tadi susut sejak mulai proses pencarian jati diri, itupun tidak sepenuhnya karena berbagai kendala yang disebabkan oleh faktor lingkungan sosial, budaya, pendidikan, fisio - biologis dan bawaan genetik. 

Faktor-faktor tersebut mempunyai peran penting dalam membentuk pola pikir dan respon tubuh yang diejawantah melalui lisan dan tindakan. Sehingga ia secara alami melahirkan keragaman hasil pikiran dan keunikan kepribadian manusia. 


PENCARIAN JATI DIRI



Illustrasi karya ewafebri



Pembentukan kepribadian dalam proses pencarian - penemuan jati diri yang dilatari dari berbagai hal di atas kemudian melekat pada watak, karakter, kebiasaan dan sifat manusia itu sendiri. Belakangan dinamika perubahan psikis itu muncul dalam pergulatan dan proses "menjadi" ( to be) pribadi dewasa yang ditandai sikap khas "memiliki" ; prinsip, "idealisme atau attitude". Secara keseluruhan membentuk gejala psikologis yang utuh sebagai diri pribadi dan individu konkrit. 

Pada masa kematangannya intervensi hasrat akan mendominasi dan memilih kehendak bebas yang dilandasi tanggung jawab. Sebaliknya, failed terbentuknya figur pribadi akan menghambat proses emosi dan logika, sehingga memungkinkan timbul gejala disrupsi, psikotisme, disasosiasi atau disorientasi terhadap pandangan hidup dan lingkungan. 

Apa yang dialami orang-orang dalam lingkungan masyarakat atau kehidupan sosial secara implisit memiliki kesamaan, seperti kata pepatah : "buah jatuh tak jauh dari pohonnya".

Atau lebih tepatnya kemiripan satu sama lain di antara anggota sesama warga yang disebabkan oleh pengaruh pengcopyan perilaku atau sikap meniru, entah dalam lingkungan keluarga, kehidupan lingkup RT atau level luas kehidupan lainnya. Misalnya, pandangan dan cara beragama yang sama / tiruan - mimesis / copyan atau kesamaan logat berbahasa lokal yang ditiru masyarakat urban atau laku mimesis alamiah lainnya. 

MIMESIS


Jika bertolak dari tesis klasik Plato mengenai Mimesis yang mendukung tentang pola meniru ini akan beranjak pada "abstraksi ideal", yakni sesuatu yang bermula dari "idea", pikiran murni, origin, tak berubah. Bahwa segala sesuatu adalah tiruan dari roh, jiwa, pikiran, imaji. Sesuatu yang ideal dari "sana". Sesuatu yang ada dalam pikiran sejak dari sananya, merupakan suatu model "given prototype" yang diwariskan penguasa jagad kosmos

Jadi, Mimesis merupakan semacam "idea" - pikiran yang ditiru dan diaplikasikan manusia dalam kehidupan yang berbentuk konsep / gagasan atau berwujud benda nyata. Sederhananya, kenyataan itu meniru - imitasi apa yg ada dalam pikiran atau ide.

Gagasan ini lalu dikembangkan oleh Aristoteles yang menganggap Mimesis tak mungkin eksis tanpa instrumen materi - fisikal. Wacana ini selanjutnya menjadi dialektika pemikiran dan dinamika pertentangan antara idealisme dan materialisme, hingga menjadi landasan filsafat modern yang mempengaruhi filsafat seni dan estetika. 

Seni yang lekatan dan inklusifitasnya pada gigantisme kehidupan manusia yang mengapit rasa dan harapan purba, kini berkembang lebih jauh dari estetika modern dan beranjak melampaui pencapaian - pencapaiannya, sebagaimana yang direpresentasikan melalui Seni Posmodern yang populer sebagai seni rupa Kontemporer. 

Sebuah kecenderungan seni mutakhir yang berbalik arah mengadopsi ide irasional, choas, paradok, ambigu, skizofrenik, mimesis, hibrid, sinkretik, samar dan kabur, tradisi dan lokalitas, industrial dan massal, dan seterusnya sampai sulit dipahami. Di garis inilah, seni rupa kontemporer mendapat tekanan dan stress menghadapi pasar

Di masa sebelumnya, Abad 14, gelombang kreatifitas tak bisa dipungkiri setelah sekian dekade bergerak melintasi waktu, bertransformasi, mengadaptasi filsafat metafisiknya Plato dan menghirup nafas jaman renaisans, lalu terpancang tegak mengukuhkan seni rupa modern sebagai Seni Tinggi ( High Art ), elit dan eksklusif dengan estetika puncaknya yang mapan tak terganggu berpredikat fine art.

Dalam perjalanannya, saat perang dunia I ( 1914 - 1918 ) berkobar, tepatnya di tahun 1916, muncul gerakan Dada yang merespon kondisi sosial politik dan perang.

Gerakan ini menjadi kelompok kritis dan berpengaruh atas munculnya berbagai gerakan seni dan pemikiran di penghujung abad 20, salah satunya gelombang fenomena seni postmodern dan wacana poststrukturalisme ditahun 1930 an, lalu populer ditahun 1970 an, yang mempertanyakan kondisi - kondisi modernitas, tumbuhnya sikap skeptis dan relatifitas. 




(Penulis Mayek Prayitno

0 Comments