TANJIDOR | BAGONG BIG BAND

Tanjidor Bagong Bigband




Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | TANJIDOR - BAGONG BIG BAND.

Minan anak betawi // cinte mati ame budaye // dari jaman kuda gigit besi // ondel-ondel kagak naik mercy // dirarak-arak rame-rame // ondel-ondel tetap berjaye,. 

Lirik di atas adalah penggalan bait dari lagu "Minan Anak Betawi" karya Irianto Suwondo, seorang pegiat dan peneliti seni, yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengabdikan diri untuk mengangkat budaya Tanjidor bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk kembali mendapatkan tempat di hati masyarakat luas. 

TANJIDOR | BAGONG BIG BAND



Berawal dari beasiswa untuk studi masternya di bidang musik, Irianto terpanggil untuk memasyarakatkan kesenian Tanjidor yang menjadi penelitian dalam disertasinya. Bersama grup Tanjidor Tiga Saudara binaan Baba Said, ia menggebrak pakem Tanjidor yang tadinya hanya dimainkan untuk keperluan arak-arakan, menjadi seni pertunjukan musik di atas panggung. 

Usaha Ngangkat Tanjidor 

"Banyak kesenian-kesenian betawi yang hanya dimainkan untuk arak-arakan, akhirnya saya ambil Tanjidor. Saya pikir menarik bila mengemas ini dalam bentuk yang modern membawanya dalam seni pertunjukan dalam artian akan kita panggungkan,dengan demikian bukan tidak mungkin ia akan kembali dicintai," ujar Irianto.

Irianto memang tak semena-mena begitu saja mengusung Tanjidor sebagai bahan penelitiannya serta menjadikannya sebagai jiwa atau ciri khas dirinya dalam bermusik. Dengan bekal dasar yang ia miliki sebagai lulusan Akademi Seni Musik Indonesia dan telah berkecimpung di dunia musik sebagai pemain musik tiup selama kurang lebih 10 tahun.


Irianto yang saat ini juga aktif sebagai dosen Seni Musik di Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Indonesia kemudian menggawangi pembentukan Big Band yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswanya. Dengan Big Band yang bergenre Jazz, nuansa Tanjidor tetap dibawa oleh Irianto sebagai salah satu ciri khas dari Big Band yang ia bentuk. 

"Kalau kita main Jazz lagi, kita sama saja seperti yang lain. Ya seperti Likumahuwa Band, Pitulas Band, dan lain-lain. Jadi saya putuskan untuk tetap membawa Tanjidor ini dalam setiap kali manggung," ungkap Irianto. 

Namun Irianto pun tak bisa memungkiri bila perhatian dan minat masyarakat terhadap Tanjidor masih sangat minim. Menengok pada grup Tanjidor Tiga Saudara binaan Baba Said, hampir semua pemain telah berusia lanjut dan tidak ada regenerasi yang mumpuni untuk melestarikan kesenian Tanjidor yang notabene telah dimulai secara turuntemurun itu, Ia pun menaruh perhatian besar pada masalah ini. 

"Saya sempat berbincang dengan pak Said, saya berpikir ada enggak anak-anak muda yang untuk shaf (barisan) kedua, yuk kita bikin lagi satu yang yunior. Artinya kita sudah ada rencana untuk ke sana. Tapi ya itu, regenerasi ini masih menjadi satu permasalahan yang memang belums selesai," tandasnya. 

Irianto mengakui, dalam hal regenerasi pemain, usaha nyata yang ia lakoni saat ini baru sebatas mengangkat nilai Tanjidor kepada khalayak ramai.

"Sejauh ini kan kami memasukan unsur Tanjidor dalam Jazz dan bermain di event-event Jazz seperti Jazz Kemayoran, Jakjazz dan lain-lain. Setidaknya itu dapat merubah mindset ya, bahwa Tanjidor ini bisa main di mana-mana, dari satu mall ke mall lain bisa ada penontonnya sendiri," ungkapnya. 

Lebih lanjut, Irianto juga terus berharap peran serta dari pemerintah untuk menghidupkan kebudayaan Tanjidor, salah satunya yakni tentang pendanaan. Berangkat dari akar permasalahan regenerasi, Irianto melihat minimnya fasilitas, mulai dari alat sampai sanggar yang merupakan wadah berkembangnya kesenian.

"Justru pemerintah ini kan peran sertanya besar, melaui dinas-dinas terkait, mestinya harus mulai memikirkan hal-hal ini. Dari mulai mendirikan sanggar dan juga merevitalisasi alat-alatnya. Sampai sekarang apa yang ada di lapangan ini kan sudah tidak layak pakai," cetus Irianto. 

Ia pun menyinggung sedikit gagasannya tentang pemain musik tradisional untuk bisa diberikan fasilitas atau diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Harapan tersebut berangkat dari permasalahan yang ia temui di lapangan bila para peminat musik tradisional, khususnya Tanjidor, masih sebatas orang-orang kelas menengah ke bawah. Irianto melihat, penarik minat utama masyakarat yakni untuk menjadi pemain musik tradisional sebagai profesi masih sangat minim. 

"Sekarang ini, contoh kecilnya adalah grup Tiga Saudara ini. Anggotanya kan ada yang Tukang Ojek, Sopir angkot, Tukang Buah di Pasar, Tukang Parkir dan sebagian lain mahasiswa. Jadi untuk membentuk satu grup yang solid masih agak sulit. Akhirnya saya putuskan untuk latihan seminggu sekali, Minggu malam. Untuk mengusir jenuh, setelah bekerja," terang Irianto. 

Tanjidor secara khusus, dan musik tradisional secara umum memang masih dianggap sebelah mata. Di tengah bisnis hiburan populer yang menggelegar dan telah mengubah wajah kebudayaan secara umum, kehadiran musisi tradisional semakin terpinggirkan. Kesenian-kesenian lokal cenderung dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan perlahan ditinggalkan. 

Minan Anak Betawi, Sebuah Ironi. 


Tanjidor Betawi
Credit Image : Rengga Satria



Berangkat dari segala kecemasan dan kekhawatiran yang ia rasakan masih ada optimisme pada diri Irianto. Ia masih terus melawan kata menyerah dalam usahanya melestarikan kesenian Tanjidor yang selama ini akrab dikenal sebagai kebudayaan asli Betawi itu. 

Meski ia harus dihadapkan pada kenyataan kesenian tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat secara umum, sadar atau tidak sadar, kesenian Tanjidor pun telah mulai ditinggalkan bahkan oleh Tuannya sendiri. Ini adalah sebuah ironi yang dapat menggerus nyawa kesenian tradisional dari peradaban, ketika kebudayaan ditinggalkan, bukan tak mungkin jati diri bangsa akan sendirinya tumpas tak berbekas. 

Irianto mendapatkan potret kecil kebudayaan dari Grup Tanjidor Tiga Saudara binaan Baba Said, selama proses mengenal, membangun kesadaran bersama, serta berusaha bersama-sama untuk mengangkat kembali Tanjidor ke permukaan, Irianto menciptakan sebuah lagu yang dengan usil menyentil pragmatisme orang-orang yang cenderung apatis terhadap kebudayaan. Ia mendapatkan refleksi kebudayaan dari Grup Musik Tanjidor Tiga Saudara, khususnya dari anak Baba Said yang bernama Minan. 

"Lagu Minan Anak Betawi ini kan sebenarnya saya ciptakan untuk memotivasi. Siapa tahu dengan saya bikinkan lagu, Minan ini termotivasi, semangat. Kemudian saya juga ceritakan tentang masyarakat dari zaman dulu sampai zaman sekarang," terangnya. 

Lewat potret kecil tersebut, yang juga masih sebagai tugas dalam disertasinya, Irianto mengemas lagu tersebut dengan balutan Tanjidor dan Jazz dalam setiap kali pementasannya. Lagu Minan Anak Betawi yang Bagong Big Band dan Tanjidor Tiga Saudara mainkan bukan hanya menjadi simbol dari kolaborasi antara Big Band dan Tanjidor secara khusus.

Lagu tersebut juga menjadi satu bentuk satir yang seharusnya bisa menyadarkan 'Minan-Minan lain' untuk tetap berpegang pada akar kebudayaan. Bukan dalam konteks mencerminkan kebudayaan sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman, tapi tentang sebuah kebudayaan yang ternyata bisa berakulturasi dengan zaman. 

Melalui lagu Minan Anak Betawi yang tadinya hanya sebatas tugasnya dalam penyelesaian studi master seni musik di salah satu institus seni terkemuka di Jakarta, Irianto kini menjadi seorang akademisi sekaligus praktisi yang tengah berusaha untuk menghidupkan seni dan budaya dengan musik sebagai mediumnya.

Di tengah informasi tentang dunia luar (Khususnya dalam musik) yang berkembang dan tersebar dengan begitu cepat akibat teknologi yang tak terhenti lajunya, akar-akar kebudayaan tercerabut satu persatu. Tapi Irianto mengaku tetap optimis dengan apa yang ia lakukan. 

Menurutnya, seni bukan ditinggalkan, melainkan karena regenerasinya saja yang kurang diperhatikan, hal tersebut lahir karena absennya kehadiran dari banyak pihak untuk bersama-sama melestarikan seni dan budaya tersebut.

Di samping itu, Irianto juga mengakui bila saat ini, khususnya dalam seni musik, Indonesia masih gandrung untuk mengikuti tren yang berkembang namun ia percaya bila kesenian Tradisional tak akan mati dan akan tetap hidup di tengah perkembangan kebudayaan global yang semakin masif menyerang. 

"Kita ini memang cenderung tren, ngikutin tren. Dari situ saya berpikir, kalau ingin musik pop, apa pop akan bertahan bertahun-tahun? Belum tentu kan. Saya justru kembali pada tradisi (mengusung musik tradisional), kalau sampai institusi pemerintah dan semua pihak, seperti konglomerat atau apalah mempertahankannya. Saya tidak akan pernah takut tuh, karena saya yakin apa yang namanya akustik tidak akan ditinggalkan, mereka semua akan balik. Jadi kita pikir bahwa ini sudah harus. Semua ini kan lagi tren pake syntisizer itu, semua suara bisa dipalsukan, tapi tetap kami yakin bahwa orang akan balik lagi untuk mendengar musik akustik," ungkapnya penuh nada optimis. 

Sinergitas antara Pemerintah, Pemilik modal, hingga para pegiat seni menjadi sebuah impian yang sederhana dari seorang Irianto untuk membesarkan kesenian Tanjidor.. Di tengah tanggungjawabnya sebagai anak bangsa untuk tetap melestarikan seni dan budaya, ia tetap berpegang teguh bahwa sebagai seorang seniman ia harus tetap berbudaya.

(Penulis Rengga Satria)


0 Comments