PAMERAN QUARANTINE "ETALASE" AT RUMAHPROSES

pameran quarantine etalase

ETALASE 

PAMERAN ART QUARANTINE PART #5

15 Agustus 2020 - 15 September 2020
VENUE

GALLERY RUMAH PROSES, BANDUNG.




ART QUARANTINE #5



Setelah pemberlakuan new normal, akibat dari karantina lokal, masyarakat mendadak bergerak bebas meski diharuskan memakai aturan protokol kesehatan : sosial distancing, cuci tangan dan pemakaian masker. New normal adalah jalan keluar yang dianggap sebagai kebijakan untuk mengantisipasi resesi ekonomi dari dampak pandemi.

Perlahan gerak rutinitas dan pekerjaan harian kembali normal, meski di sisi lain dihantui oleh penularan covid 19. Efek balik ini memaksa kita hidup berdampingan dengan virus dan resiko terjangkit virus. Ini bisa dibilang dilema politis antara ekonomi dan pertimbangan kesehatan yang dimaknai sebagai self defense antara bertahan hidup sekaligus menyerang balik virus dengan imunitas. Sementara itu, sebagian dari banyak masyarakat sudah terlanjur kehilangan pekerjaan dan pengurangan gaji. Semua orang berteriak.

Sekarang kita membuka diri dari ancaman patogen, berdamai dan hidup bersamanya. Penyebaran beritanya diunggah melalui transmisi dunia maya, media sosial dan timeline tv. Banyak beredar info meningkatnya gejala infeksi covid di masa karantina dan fase normal baru. Ada kekhawatiran ledakan korban gelombang kedua.

Akumulasi dari berbagai sample, bahwa hasil sumber data itu terpercaya - up to date, sebaliknya ada dugaan data dimanipulasi (sakit lain tapi meninggal diklaim korban covid untuk suatu kepentingan), separuh orang percaya begitu saja, sisanya entahlah. Pada akhirnya pesan simpang siur informasi berita itu diragukan kevalidannya, kebenarannya terkesan samar alias dipolitisir.


Baca Juga : ARTS FOR THE EARTH


Bagi orang awam hal itu tidak penting, tapi dirayakan oleh penggemar teori konspirasi. Dalam keyakinan agama, bencana ini turun langsung dari tangan Tuhan. Lebih dari pada itu, pemegang kebijakan masih mengupayakan solusi. Tak lupa dibalik kata - kata, para intelektual sibuk memperdebatkannya. Ironis memang.

Di tengah carut marut situasi itu, sains dan agama ditabrakkan, bahwa wabah corona virus diseas itu azab yang harus diterima manusia sebagai hukuman. Tuhan murka atas laku batil manusia yang terlampau parah. Inilah teguran dahsyat manusia yang disebabkan oleh perilakunya sendiri yang menyimpang dari batasan "syariat" keTuhanan ; yang ditandai egoisme, ausnya moralitas dan keringnya spiritualitas, ditambah kecenderungan sifat destruktif, serakah dan pongah. 

Kesadaran manusia tampak kesulitan berbenah memperbaiki diri sendiri, menindas, mengeksploitasi alam dan mengotori lingkungan. Dilain pihak, modernisme menganggap ini efek dari limbah industri kapitalisme global, perang dagang atau siklus ekologi dunia oleh penyakit untuk menyembuhkan dirinya sendiri atau gegara akibat melonjaknya populasi.

Apapun itu, kita harus menaruh interest pada sains, sebuah jalan terang dengan konstruksi metode ketat yang menghasilkan penemuan dan bukti ilmiah. Di dunia ilmiah kontemporer, virus dibongkar kode genetikanya, di dalamnya terdapat struktur atom biomolekular yang berkapasitas menyimpan dan menyandikan informasi genetik (DNA) jenis virus untuk mencari tahu resistensi penangkalnya sebagai obat penawar.

Di samping itu, eksplorasi dan inovasi kemajuan metode teknik riset sebelumnya, yang merujuk pada pengalaman dunia ketika dilanda wabah dimasa lalu, menjadi modal untuk mencari tahu kelemahan virus dan cara mencegahnya sehingga memberi gambaran dan pemahaman yang komprehensif terhadap virus, serta mampu memicu tindakan implementatif dilingkungan terdampak.

Dalam itu, proses kerjasama menyangkut tindakan pencegahan dan riset ilmiah membutuhkan komitmen dari berbagai pihak secara aktif dan kekompakan kolektif ; pemerintah, swasta, ilmuwan, akademisi, dokter, masyarakat dan komponen lainnya. Jaringan dari banyak pihak ini akan meningkatkan rasa percaya, saling menguatkan, membentuk ikatan emosional, menghadirkan harapan, memberi sudut pandang, menemukan pengalaman dan pemaknaan baru pada hari ini, untuk puluhan dan ribuan tahun di masa mendatang, bukan mala diaduk dengan politik identitas.

Setali dari itu, kesinambungan dukungan kerja-kerja kolektif akan mengotomatisasi mode literasi serta pembacaan sejarah, pemanfaatan bank data, metodelogi penelitian, pertimbangan opini ahli dan keterlibatan publik. Tentunya akan lebih mudah dalam memecahkan masalah sampai menemukan jalan keluar bersama - sama. Sayangnya, pikiran ini hanya bumbungan imajinasi saat rebahan.




Pada dasarnya kita sudah lama mengenal virus parasit dengan berbagai varian infeksi dan tingkat bahaya sampai yang paling mematikan, kendati demikian Covid 19 mengindikasikan virus yang mempunyai kualitas rentan menular dengan daya infeksinya yang mencengkeram hampir diseluruh bagian dunia.

Virus ini telah menjadi momok yang benar-benar menyerang kita secara massif, sporadis, mengubah dan memberi masalah luar biasa pada semua lini bidang kehidupan. Di luar sana, remang-remang rumor menggiring asumsi khalayak umum yang diarahkan pada dugaan desain besar rekayasa konspirasi global, melawan asumsi bahwa infeksi wabah terjadi secara alamiah.

Nyatanya tidak ada perang besar, gencatan senjata, adu fisik antar manusia atau penghancuran infrastruktur, tidak ada pula kerusakan bangunan warga, rumah ibadah dan lainnya tapi jelas hasilnya kerugian ekonomi dan nyawa manusia. Negara dibikin gamang, masyarakat yang bekerja dirumahkan, sekolah diliburkan, dokter, perawat, aparat dibuat kelabakan, kota-kota menutup akses sampai ke desa-desa. Eksesnya begitu disruptif pada kehidupan sosial, psikologis dan pribadi kita di seluruh dunia.

Akibat dari itu, umumnya kita menjadi paranoid seolah semua tempat dan benda dihinggapi virus, lalu mengundang panik, pelan-pelan berperilaku kompulsif, saling mencurigai, saling berjauhan hingga masyarakat dilarang berkumpul ditempat ramai demi memutus rantai penularan.

Seirama dengan itu, media sosial tak kalah heboh dan eksplosif dalam menanggapi peristiwa pandemi, sebab berita penularan dan kematian melonjak ditingkat global, namun diabaikan dilevel lokal karena sebagian orang masih beraktifitas dagang, sedangkan kebanyakan orang mengkarantina diri dirumah. Tak pelak pembatasan sosial besar-besaran segera diberlakukan. Kota-kota menjadi lengang, desa-desa sepi, hanya beberapa orang berkeliaran mencari kebutuhan. Ini pertama kali isolasi kesunyian melanda ruang waktu di dunia internet yang hiruk pikuk oleh kesibukan, kemacetan dan bising mesin-mesin industri modern.

Dari rumah, kondisi yang disebut "karantina" tidak bisa menghalangi orang berhenti berpikir untuk mengerjakan sesuatu, banyak dari mereka membuat inisiatif dan alternatif-alternatif untuk menyiasati hidup yang di alih - padukan dengan instrumen tekhnologi berbasis handphone android dan komputer. Misalnya, berdagang online, praktik belajar - mengajar dan diskusi webinar virtual, wisuda online, belanja online, bekerja online, sex online, pameran online dan lain-lain berbau online - virtual. Kebiasaan baru ini menyandang nama "work from home" (bekerja dari rumah). Kelas rebahan yang sering kali ketiduran.

Mau tidak mau, masyarakat yang gagap tekhnologi ditantang beradaptasi dan belajar menggunakan aplikasi-aplikasi terkait kebutuhan virtual/online, terutama sektor sekolah virtual. Proses belajar - mengajar ini banyak menguras energi para orang tua. Selain perangkat android harus prima (tidak ngeheng), ia juga butuh kapasitas memori - RAM lebih besar dan jumlah giga kuota lebih banyak.

Itu berarti pengeluaran tambahan, di mana penghasilan dalam posisi minus. Ini salah satu kebiasaan baru yang banyak dikeluhkan emak - emak divpinggiran kota, desa dan pelosok. Di New Normal ini, sebaiknya institusi pendidikan berinisiatif memfasilitasi pengadaan kuota dan perangkat android belajar siswa supaya tidak memberatkan orang tua wali. Tidak seperti dunia seni yang mendapat kompensasi dari pemerintah, ketika pelaku seni merasa terkena dampak paling parah. Tragis - ironis.

Dunia seni rupa pun tidak tidur, ia siar melalui pameran online yang bisa diakses dimana saja. Maksud dan tujuannya nyaris hampir sama dari sekian banyak penyelenggaraan pameran online, yakni selipan subtitle nilai komoditas dan simpati dalam bentuk donasi. Ini arus maenstream lama yang menarik banyak minat, memiliki pasar wacana yang sama, namun jadi saksi peristiwa epidemi yang punya tempat istimewa dalam masa pandemi. 

Menariknya, pameran online dalam proses apresiasi sama sekali kurang menyokong getaran, tangkapan aura, kesan khas atau sinyal kuat kepada pemirsanya dalam melihat visual karya yang dipamerkan. Rasa subyektif atau pengalaman estetik - artistik yang hadir ketika berhadapan langsung dengan karya itu kualitasnya berkurang dan terasa hambar, seakan terhambat atau ditangguhkan oleh jaringan pixel. Tapi adakah cara menikmati dan cara melihat yang berbeda!?... Bisa jadi dirasakan seperti melihat film, gambar - gambar di media sosial dan katalog.




Biarpun begitu, atmosfer berkesenian harus tetap dijunjung tinggi di "ruang hampa udara". Ini momentum bagi pelaku seni yang meninggalkan dokument "cortefak" ( jejak digital karya seni dimasa Corona ) bagi masa depan. Catatan spesifik wabah melalui ekspresi lukisan, drawing, grafis, patung dan media lainnya, akan memberi pengertian kondisi estetik dramatik di masa pandemi. Olehnya, situasi ini akan menstimulasi pemikiran, mendorong kreatifitas sekaligus memperdalam perenungan filosofis dalam upaya menanggapi keseharian yang tidak menentu selama karantina.

Untuk itu, Pameran Art Quarantine jelmaan kreatif dari respon sentimentil altruisme yang didasari hasrat bertahan hidup dan rasa peduli yang melanda dunia global saat ini, telah diintai krisis psikis dan ekonomi, tapi juga ladang sumber obyek pemaknaan, inspirasi, dukungan moral dan sikap positif seniman ditengah pandemi.

Art Quarantine tumbuh dari kemauan untuk berbagi pengalaman dari satu orang keorang lain, dimana pengalaman ini memberi sudut pandang yg berbeda disetiap tempat dari setiap lingkungan yang terdampak. Sharing atau pengalaman berbagi ini tak lain sebuah cara bagaimana kita merasakan setiap keadaan antara tertekan, sakit dan sehat, lalu memberi kesempatan dan melibatkan orang lain untuk menafsirkan, merenungkan karya-karya visual bergaya figuratif, simbolis atau metaforis, sekaligus memberi penghiburan audien dalam menikmati pameran Art Quarantine #5 ini di Galeri Rumah Proses Bandung (offline) dan dunia maya (online).

Kali ini pameran Art Quarantine diselenggarakan dalam format offline dan online dengan single track "Etalase". Gagasan ini mengandaikan dunia sebagai etalase yang dibungkus atmosfer dan biosfer. Didalamnya terpajang berbagai macam organisme makhluk hidup yang berjejaring dengan peradaban manusia dan dampak dari aktifitasnya. Umumnya etalase yang kita kenali adalah kotak kaca, box transparan untuk menaruh benda-benda. "Etalase" dalam konteks pameran ini dipakai dan ditarik keluar (out) dari bentuk aslinya (box) sebagai ruang pajang "out of the box" yang berisi benda artistik, yakni karya seni dan ide dibaliknya yang merujuk pada situasi pandemik.

Masa transisi menuju normal kembali ini diharapkan mencerminkan perubahan perilaku, harapan, rencana dan peluang setelah tiga bulan dirumah dan bulan-bulan berikutnya. Tapi tidak hanya itu, masa ini juga membuat orang-orang kembali berjuang dari rasa kehilangan yang direnggut virus dan belajar berjiwa besar dalam menghadapinya.

Tidak mudah memang, paling tidak Art Quarantine #5 yang digelar secara fisik adalah rencana rentetan dari pameran online selama empat kali dalam masa pandemi, yakni mewakili gagasan dan sisi lain kehidupan seniman dari dampak pandemi, masa inkubasi, cara bertahan hidup, representasi perenungan, semangat juang dan produktivitas perupa dalam proses menghasilkan karya seni, benda-benda artistik atau merchandise untuk diapresiasi secara maknawi, sekalian ditawarkan pada pecinta seni atau publik umum yang berminat mengoleksi.

Ingin mengetahui apa saja karyanya KUNJUNGI PAMERAN ONLINENYA DI SINI.

Agustus, 2020.
Penulis Mayek Prayitno.





0 Comments