GLOBAL ART FORUM LOCA | ARTS FOR THE EARTH

arts for the earth



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | ARTS FOR THE EARTH. Prediksi bumi di tahun 2030 disinyalir akan mengalami lonjakan panas radiasi matahari yang populer disebut dengan efek rumah kaca. Penurunan suhu dingin yang ekstrim, sehingga bumi seperti mengalami zaman es. Isu global ini dianggap sebagai ancaman terhadap spesies manusia. Yang kemudian membangkitkan rasa kemanusiaan hingga merangsang respon kepedulian terhadap lingkungan. Respon ini berangkat dari sesuatu yang sederhana, yakni kepekaan dan tanggung jawab. 

ARTS FOR THE EARTH


Kekhawatiran tentang bumi di masa depan banyak dikisahkan dalam film-film apocalypse, fiksi ilmiah yang mengisahkan alam telah mengalami perubahan-perubahan secara ekstrim. Hal tersebut sebagai konsekuensi atas pertumbuhan aktifitas manusia dan geologi yang mempengaruhi mata rantai hewan, tumbuhan, dan ekosistem di dalamnya. yang emmungkinkan munculnya wabah, bencana alam, pemanasan global, penurunan suhu dingin, kebakaran juga penebangan hutan, kontrol populasi, peperangan, dan kecelakaan teknologi modern.

Sebagaimana kebanyakan orang, kepekaan dan tanggung jawab adalah sesuatu yang sifatnya melekat, terlebih jika ia seorang penggiat atau seniman. Ia dituntut untuk peka terhadap lingkungannya, sekaligus bertanggungjawab secara moral terhadap masyarakatnya. 

Melalui kreativitas dan kepekaan artistik, beberapa seniman yang terlibat dalam pameran 30 x 30, tengah membawa isu global, dengan cara lokal yang mereka praktikkan lewat pameran karya seni dan workshop. 

Beberapa di antara mereka sering menggelar workshop dan edukasi berkaitan dengan sampah plastik. Media plastik ini direkayasa, dirangkai menjadi suatu bentuk karya seni yang unik. Mereka memberdayakan masyarakat setempat secara kreatif dan memproyeksikannya. Namun sesungguhnya bagaimana sifat plastik itu sendiri, di aman ia berakhir, hingga kemudian mempengaruhi iklim bumi menjadi tantangan tersendiri.

SENI, MANUSIA DAN ALAM


karya yang terbuat dari plastik


Mula plastik dari bahan mentah minyak bumi, diolah sedemikian rupa, dengan berbagai teknik pembakaran bersuhu tinggi. Lalu kemudian berbagai elemen partikel dipisahkan untuk menyiapkan banyak jenis plastik yang akan diproduksi. 

Nah, proses pembakaran inilah yang menghasilkan karbondioksida, bersamaan gas lain yang terperangkap dalam atmosfer. Hal ini memicu peningkatan suhu panas bumi. Konsentrasi inilah yang akan "membakar" iklim global, melelehkan kutub dan meningginya air laut. 

Selain itu, pembakaran plastik akan melepaskan zat dioksida yang meracuni udara. Udara yang tercemar ini akan berdampak pada organ tubuh dan lingkungan sekitar. Sifat plastik yang lama terurai akan mengganggu kesuburan tanah, proses pertumbuhan tanaman dan hewan melata lainnya. 

Rentetan gangguan mikroskopis ini perlahan akan membawa dampak laten secara psikologis dan sosiologis. Tak heran berbagai macam penyakit dan parasit muncul menghinggapi manusia akibat dari konsumsi makanan dan udara yang terkontaminasi racun tersebut. 

Sejalan dengan itu, kiranya cukup relevan apa yang digagas atas kekhawatiran dan prediksi terkait masa depan bumi oleh deretan perupadi pameran 30 x 30. Mereka berniat keras untuk memberikan sudut pandang dan kintribusi lewat karya visual , juga ide yang disampaikan dengan berbagai bentuk, simbol, metafora dan gelagat sarkasme. 

Atau memparodikannya melalui temuan samaph, cat, kanvas, dan benda aktif lainnya yang diframing dalam kiasan tema 30 x 30. Hal itu semacam upaya dan sinyal untuk memprediksi kejadian di tahun  2030 ke dalam kanvas berukuran 30 x 30 cm. 


(Penulis Mayek Prayitno)

0 Comments