GLOBAL ART FORUM LOCA | SENI : ANTARA TRAGEDI DAN SELEBRASI


forum seni antara tragedi dan selebrasi



Global Art Forum - LocaInstitute.com | SENI : ANTARA TRAGEDI DAN SELEBRASI.  Pernah ingat fenomena "Batu Akik" dengan segala daya pikatnya ? Pesona Batu Akik telah menciptakan "euforia" sehingga digandrungi baik tua maupun muda, laki-laki ataupun perempuan, anak-anak dan juga dewasa. Dari tukang sayur hingga insinyur, dari masyarakat kelas bawah hingga menengah sampai atas, dan seterusnya. Lantas apa pembeda antara tragedi dan selebrasi dalam dunia seni ?

SENI : ANTARA TRAGEDI DAN SELEBRASI


Fenomena benda alam itu berdampak dalam mengisi sisi kehidupan. Turut mencerahkan dan menjadi "nilai" tawar lain di tengah situasi rumitnya zaman. Kemunculannya mampu melipat waktu untuk sementara, yang menggugah umat tidak larut dalam layer "kesusahan" hidup di eranya.

Produk budaya non-teknologi tersebut telah mampu mencuri perhatian masyarakatnya. Hiruk pikuk Batu Akik tidak ikut campur dengan agenda pelik masanya. Ia telah menjadi penentu dan penanda bagi zamannya.

Lalu, adakah kesamaannya dengan fenomena Tiktok saat ini?


FENOMENA TIKTOK DAN TRAGEDI PANDEMI


Tentu kita (umat manusia) sepakat bahwa musibah atau bencana non-alam, Pandemi ini adalah sebuah Tragedi. Kadar "kesusahan" di layer Pandemi ini jelas tidak sama dengan sebelum kini. Agaknya di era Pandemi ini dibutuhkan empati yang ditunjukkan lewat karya. Karena,

 Seni adalah sebuah kekuatan. Yang menebar nilai (value), kearifan, serta manfaat.

Memang hidup cukup sulit, tetapi bukankah seniman adalah manusia teruji yang memang terlatih dengan Tragedi ? Oleh karena peristiwa Pandemi ini adalah Tragedi, maka sangat diharapkan karya seni menjadi harapan di tengah masa ini. Ia menjadi Antitesis dari Polemik kini.

Kiranya tidak pula berlebihan jika mau mengakui bahwa "Tiktok" atau "Meme" beserta turunannya adalah produk seni kontemporer termasyhur jaman kini. Faktanya, Tiktok berkontribusi pada umat. Terlebih dimasa kini, karena di media saat ini yang ada malah "gelap" melulu. Tiktok menjadi "nilai" tawar lain ditengah kegetiran saat sekarang ini. Yang tidak turut serta melegitimasi agenda Covid-19.

Fenomena ruang maya ini turut membuat prilaku sosio-kultur semakin hari semakin hidup dan berinteraksi pada tingkat "virtual". Semakin memungkinkan manusia berinteraksi tanpa terlalu tergantung lagi pada kondisi fisik serta nilai.



 
Produk industri teknologi ini membuat kontradiksi klasik antara tubuh dan jiwa menjadi terasa purba dan usang olehnya.

Nilai tuntunan pada Seni ditelan secara lahap oleh Tiktok yang sekadar tontonan semata. "Seni Bermutu" kalah tenar oleh Tiktok yang sangat viral. Yang membuat "Seni Bermutu" terkubur begitu saja.

Lintas platform penyajian untuk upaya eksistensi Seni hari ini, menjadi pilihan. Tentu hampir mirip halnya dengan cara kerja Tiktok yang bersifat pengulangan (regular) yang linear dan berujung pada selebrasi.

Sementara Seni itu geraknya simultan dan spiral. Tidak sekadar menjadi Tontonan melainkan bernilai Tuntunan. Karena ia punya kualitas nilai dan kekuatan lebih yang dapat menggugah kesadaran. Sehingga dapat membedakan antara Tragedi dengan Selebrasi, yang jelas terpisah di antaranya seperti siang dan malam.

Apakah Seni hari ini masih akan hadir dengan niat "usali" (murni) yang alaminya dalam mencerahkan kehidupan kini (sebelum bicara untuk nanti)?

Dan, apakah Seni hari kini akan berkontribusi untuk umat (khalayak banyak) saat sekarang ini?

Maka sangat diharapkan semoga Seni/ Karya seni dapat mengabulkan keinginan umat, jika memang ini menjadi orientasi bersama (seniman).

---------

A•R•T

Catatan: "Tulisan ini adalah nasehat diri untuk menyasar ikhtiar kreatif atas seni".


Penulis: Rijal TanMenan
Profesi: Etnomusikolog/aktivis seni dan budaya
Medsos IG: @rijaltanmenan


0 Comments