TOKOH | SERIBU LANGKAH SCHOLASTIKA DEWI SASTRANEGARA

fotografer perempuan scholastika dewi sastranegara



Global Art Forum Loca - LocaInstitute.com | Scholastika Dewi Sastranegara memiliki hobi terpendam yang tidak dia sadari, setelah berkali kali mencoba membuktikan diri membidik dengan kamera. Setelah menghasilkan gambar-gambar yang dianggapnya dapat mewakili kesan tentang jiwa terdalam, dia membuka niat untuk menekuni fotografi sebagai basis kehidupannya. Perempuan yang lebih banyak melakukan perjalanan membawa kameranya ini, mempunyai bidikan yang luar biasa terhadap obyek di hadapan kameranya. 



SERIBU LANGKAH SCHOLASTIKA DEWI SASTRANEGARA



Pada tahun 2010 menyelesaikan Pendidikan Akutansi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Setelah tahun 2011 sampai 2018 bekerja di perusahaan korporasi nasional, sambil menekuni hobinya memotret, Scholastika Dewi Sastranegara memutuskan untuk bergulat dengan dunia fotografi sebagai bidang yang dia tekuni. Perjalanan keluar kota atau keluar negeri banyak dilakukannya, tidak lupa membawa kamera untuk membuat dokumentasi. 


Selain fotografi, gambar bergerak, film dia rangkai dalam perjalanan. Baik diproduksi sendiri atau kolaborasi. Melalui rumah produksi yang dibuatnya tahun 2018 Tika, panggilan akrabnya, memproduksi film pendek berjudul Mothers Day (2018), dibuat di Bangladesh, The Woman (2018), kolaborasi bersama Elisabeth Fani. Film-film ini tidak lepas dari lingkungan sebagai tempat yang pernah di pijaknya. 


Sampai detik ini, Scholastika masih belum puas dengan perjalanan fotografinya. Dia masih ingin terus terlibat dalam banyak kisah manusia dan menjelajahi budaya untuk menjalani cintanya pada kemanusiaan, seperti halnya fotografer idola Steve McCurry. Cita-cita dan impian fotografinya akan terus dimulai setiap kali dia menemukan cerita baru untuk dibidik.


OBJEK FOTO SCHOLASTIKA


Foto karya Scholastika (Credit : Scholastika


Kisah manusia adalah sesuatu yang selalu menarik perhatian Scholastika. Melalui lensanya, dia tidak hanya ingin menampilkan gambar cetakan yang tidak berarti. Lebih dari itu, Scholastika ingin merekam kisah kehidupan manusia agar menjadi pembelajaran yang berharga bagi manusia lain. Obsesi ini telah membawanya ke berbagai negara di Asia untuk menghasilkan film dokumenter internasional di Bangladesh, Thailand, India, Singapura, Brunei Darussalam, dan Kashmir.


Bersama dengan Elle Zahra, tahun 2020 mereka mendirikan ARThemis Gallery yang berspesialisasi dalam fotografi tidak hanya sebagai media dokumentasi, tetapi sebagai karya seni yang harus dihargai. Scholastika bertindak sebagai Chief Executive Officer (CEO). Melalui kerja bersama atau kolaborasi, karya mereka dapat dilihat melalui arthemisgallery.com, website fotografi yang mereka persiapkan untuk menampung karya-karya foto. 


PERJALANAN KARIR



Karya Scholastika
Karya Scholastika (Credit : Instagram Scholastika Sastranegara)


Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penghargaan nasional dan internasional telah dicapai melalui jepretan kameranya, termasuk memenangkan penghargaan foto terbaik oleh CNN Indonesia untuk kategori Street Photography, menerima penghargaan foto favorit oleh Kalbe Farma untuk tema Harmony Diversity, dan mendapatkan Honorable Achievement dalam Asian Tourism Fair 2018 di Dhaka, Bangladesh.

Berbagai arsip perjalanan telah dia kumpulkan. Bagaimana kelanjutan arsip-arsip tersebut ? 


Mungkin melalui buku arsip-arsip dapat terkumpul dengan lengkap, melalui lengkapnya arsip maka dapat terbaca secara keseluruhan bagaimana citra perjalanan dengan lingkungan yang saya bidik dapat dijadikan publikasi”, ungkap Tika, perempuan yang dilahirkan di Yogyakarta ini. 


Mulai pertengahan tahun ini, 2020, Tika menyiapkan buku tentang bidikan di berbagai tempat di belahan dunia. Apa judul yang dipilihnya? Social Vacation, salah satu pilihan konsep yang dia temukan diperjalanan ketika berdialog dengan seseorang untuk membuka pemikiran dengan bidikan foto-fotonya. 


Apa seh Social Vacation itu? Belum ada pengertian mendasar tentang diksi kata ini. Tetapi ketika dipilah menjadi kata dari masing-masing arti, social berarti kehidupan sosial, dimana Tika membidik obyeknya. Sedangkan vacation merupakan sifat dari yang dia bidik, secara harafiah memang arti kata ini adalah liburan. Tetapi muatan yang ditawarkan Tika untuk fotonya lebih pada lifestyle dari kehidupan yang belum pernah dia ketahui. 


Apa yang ditawarkan oleh Tika dalam buku itu nantinya merupakan bidikan-bidikan kamera lingkungan diluar kehidupannya, dokumentatif dan memuat nilai-nilai local masyarakat yang mempunyai tradisi mengembangkan pola kehidupan alamiah, transenden dan multikultur. Sehingga apa yang disajikan dalam tematik buku akan memperlihatkan prosesi kerja mengenal kebudayaan, merunut nilai tradisi dan memberi “warna” baru dalam gambar-gambar yang sifatnya fotografis. 

( Sumber foto: @scholastikasastranegara dan sebagian sumber tulisan dari website Arthemisgallery

(Penulis Frigidanto Agung)

0 Comments