RESENSI BUKU #1 : RUMPUN DAN GAGASAN : BUNGA RAMPAI ESAI DAN KRITIK SENIRUPA 1969-2019


RESENSI BUKU #1 : RUMPUN DAN GAGASAN : BUNGA RAMPAI ESAI DAN KRITIK SENIRUPA 1969-2019




Judul buku: Rumpun dan Gagasan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Senirupa 1969-2019.
Pengarang: Bambang Bujono.
Penerbit: Dewan Kesenian Jakarta dan gang kabel.
Tahun terbit beserta cetakannya: cetakan pertama, Desember 2019.
Dimensi buku: i-xxii+ 440, 13,8 x 20,3 cm.
Penyunting: Hendro Wiyanto dan Danuh Tyas Pradipta.
Penyelaras Bahasa: Ninus Andarnuswari.


RESENSI BUKU #1 : RUMPUN DAN GAGASAN : BUNGA RAMPAI ESAI DAN KRITIK SENIRUPA 1969-2019



Melalui penulisan pameran seni rupa dapat dijadikan arsip, sehingga pameran dapat dilihat setelah sepuluh tahun kemudian. Hal ini dibuktikan dengan terbitan buku kumpulan tulisan Bambang Bujono di majalah mingguan Tempo. 

Penulisan yang dilakukan Bambu, demikian panggilan akrabnya, dapat menjadi relasi antara kritik seni, review pameran dan arsip seniman ketika berpameran.

Melalui bentuk penulisan Bambu, yang diterbitkan tiap satu minggu sekali melalui lembar seni memperlihatkan perkembangan artistic dari masa ke masa, serta memperlihatkan seniman pada masanya.

Sebagai cara untuk meyimak seniman berpameran suatu masa, melalui penulisan gaya Bambu ini memperlihatkan bagaimana kekuatan sesungguhnya seniman saat berpameran. Baik kekuatan konsep, materi pameran atau totalitas seniman dalam bekerja. 

Penulisan komprehensif tercipta karena mempertimbangkan keadaan pada masanya. Sehingga apa yang terjadi dalam interaksi antara karya dengan zamannya tertulis dengan rapi dan terlihat kualitas karya dalam pemaparan di tulisan.

Salah satu contohnya penulisan tentang Basoeki Abdullah dalam pameran tunggalnya di Hotel Hilton Jakarta, Bambang Bujono sempat membuat catatan yang dimuat di majalah mingguan Tempo edisi 16 Juni 1984.

Setelah melihat pameran itu Bambu, panggilan akrabnya menuliskan:

“Tapi ekspresi disitu tak lain dan tak bukan agaknya cuma ekspresi pamer diri. Ini memang kesan subyektif. Tapi bila ternyata hampir semua lukisan Basoeki Abdullah mengesankan begitu, boleh dibilang memang itu cap Basoeki. “Habis bagaimana saya bisanya cuma begitu?” komentar pelukis ini dengan santai, tanpa nada membela diri.” (hal 408)


Betapa kekuatan ekspresi seniman direkam Bambu dengan kental. Bambu mampu membuat identifikasi antara karya dengan sikap pelukisnya. Hal ini menjadi cara tersendiri ketika menyimak karya yang detail dengan cara penciptaan. 

Fenomena penciptaan dengan pemahaman konsep seniman menjadi cara untuk memperlihatkan apakah seniman menjiwai karya dengan segenap hatinya. Sehingga muncul identitas cara berkesenian dengan hidup sehari-hari, seperti Bambu mengungkap Basoeki Abdullah.

Proses penyuntingan buku yang tajam dan menunjukan perkembangan identitas seni rupa dari masa ke masa terangkum dengan kuat. Penulisan seni rupa gaya Bambu juga merepresentasikan sejarah seni rupa khususnya. 

Melalui buku ini, terlihat bahwa sejarah seni rupa tetap bergulir walaupun banyak kejadian yang menghambat perkembangan seni rupa. Hal ini seperti diungkapkan, Danton Sihombing, dalam pengantar buku tersebut.

Kritikus adalah lawan bicara yang penting antara seni dan khalayaknya, mengartikulasikan pendekatan, konteks,dan dasar historis atau teoritis dari sebuah karya seni. Dengan cara ini praktik seni dan kritik seni akan berada dalam relasi dialektis, saling melengkapi. Oleh karenanya, penulisan sejarah senirupa Indonesia tidak lepas dari kontribusi praktik kritik seni” ,papar Danton Sihombing, Plt Ketua Dewan Kesenian Jakarta dalam pengantar buku, mengungkapkan bahwa relasi sejarah tetap menancap kuat dalam model penulisan Bambu.

Sedangkan penyunting buku oleh Hendro Wiyanto mengamati lebih detail bahwa Bambu mengungkap kedalaman penciptaan seni dengan pandangan-pandangan realistis. Seni rupa mengungkap material karya dengan perupa yang membuat proses terjadinya karya sebagi interaksi detail atas penciptaan.

“Sebutlah mazhab apapun dalam seni rupa, maka bagi Bambu dua unsur itu menurutnya akan sama saja, ada di sana. Yang riil adalah apa yang disebutnya “materi”, misalnya garis, warna, dan bentuk pada lukisan. “Materi” ini menciptakan gambaran mengenai sesuatu yang kita kenal, misalnya bentang alam atau sosok manusia. 
Semakin materi tidak menciptakan gambaran apa-apa, seni makin menjadi abstrak atau nonfiguratif. Ketika itulah, menurut Bambu, garis, bentuk dan warn aitu sendiri, tidak mewakili apapun di luarnya. Pencerapan atau pengalaman akan yang murni teruji kesahihannya melalui ungkapan seni abstrak. 
Adapun yang “timbul dari yang nyata”, menurut Bambu, tak lain adalah “imaji nonvisual”, yakni intuisi seniman”,tulis Hendro Wiyanto dalam pengantar penyuntingan buku. (hal ix)


Buku kumpulan tulisan seni rupa mewakili wacana seni rupa yang berkembang selama ini. Bambu merupakan penulis aktif, yang sekaligus menjadi pengajar Pasca Sarjana Institut Kesenian Jakarta

Bidang penulisan seni rupa dia tekuni sepanjang dia menjadi wartawan diberbagai media cetak termasuk menjadi pemimpin redaksi di beberapa media yang telah dia lepaskan jabatan itu. Menulis seni rupa menjadi panggilan hati selama ini. Buku ini mewakili apa yang telah dia lakoni sebagai pejalan di dunia seni rupa.


(Penulis Frigidanto Agung)

0 Comments