GLOBAL ART FORUM LOCA | SENI DAN ALAM


Seni Dan Alam
(Credit photo : holgerheinz0, pixabay)



Global Art Forum - LocaInstitute.com | SENI DAN ALAM. Sejak dahulu kala, manusia selalu berupaya untuk menunjukan eksistensinya lewat simbol. Hal itu pula yang tersirat dalam guratan berbentuk tangan di dinding gua Chauvet-Pont-d'Arc, selatan Prancis, 30.000 tahun yang lalu. Tangan yang melambai di dinding batu itu seolah menjadi simbol yang hendak disampaikan kepada kita masyarakat modern 30.000 tahun kemudian, “Aku ada di sini!


GLOBAL ART FORUM LOCA  | SENI DAN ALAM




Selain guratan tangan, banyak juga simbol-simbol lainnya yang menghiasi dinding gua. Sosok manusia, perahu, binatang, matahari atau bulan, menjadi simbol lain yang kerap ditemui di dinding-dinding gua.

Dari banyaknya simbol dan motif yang ada, beberapa ahli mengklasifikasi hal tersebut ke dalam beberapa tema, yakni eksistensi, aktifitas dan kepercayaan. Meskipun eksistensi (guratan berbentuk tangan) masih mendominasi temuan mereka hingga hari ini.


Art and nature
(Credit photo : Pixabay)


Guratan-guratan itu kemudian disebut sebagai lukisan gua, atau karya seni tertua yang pernah ada. Bahkan jauh lebih tua dari sejarah manusia itu sendiri (ditemukannya aksara). 

Maka bisa diikatakan bahwa lukisan atau karya seni sejak dahulu telah digunakan oleh manusia sebagai medium untuk berekspresi dan menunjukan eksistensinya. 

Manusia juga sangat tergantung pada alam untuk memproduksi karya-karyanya. Misal, temuan resep kuno untuk warna yang diperoleh dari bahan-bahan alami; warna putih dari tulang yang dibakar dan ditumbuk, warna kuning dari atal batu, warna biru dari daun arum (nila), warna merah dari gelinggam (geluga), warna hitam dari jelaga lampu minyak.

Sementara untuk media lukisnya, manusia biasa menggunakan kulit hewan, daun, kulit pohon dan tentu saja dinding gua dan batu-batu.


Alam, Inspirasi Tanpa Batas


Dalam perjalanan sejarah seni rupa, alam juga menjadi sumber inspirasi yang tak habis-habisnya dieksploitasi oleh para seniman.

Henri Matisse, pelukis kenamaan asal Prancis mengatakan bahwa ketergantungan seorang seniman pada alam dalam proses berkeseniannya adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar.


“An artist must possess Nature. He must identify himself with her rhythm, by efforts that will prepare the mastery which will later enable him to express himself in his own language.”


Claude Monet, lewat series “Water Lilies” juga menunjukan kepada kita bagaimana alam bisa mempengaruhi seorang seniman untuk mempunyai “aksaranya” sendiri dalam menyampaikan pesannya kepada dunia.

Water Lilies” sendiri merupakan series karya Monet yang terinspirasi dari keindahan kebunnya di Prancis dan menjadi fokus kekaryaannya selama kurang lebih 30 tahun.

Berbeda dengan Monet, seniman kontemporer Mary Iverson mempunyai resonansi yang berbeda dalam menyikapi kondisi lingkungan di sekitarnya. Tinggal tidak jauh dari kawasan industri dan pelabuhan di Seattle, Amerika, Iverson berhasil menangkap sebuah tragedi, yakni konflik berkepanjangan antara bumi dan manusia.

Lukisan-lukisan Iverson memang tidak berteriak lantang tentang hal tersebut. Lukisan-lukisannya cenderung bergumam dan menyindir, di mana dia kerap menampilkan keindahan alam yang dipadukan dengan kontainer dan crane sebagai simbol eksistensi dan ketamakan manusia.


Eksistensi Manusia dan Kondisi Bumi


Pesan yang coba disampaikan oleh Iverson tentu sangat berkaitan dengan kondisi hari ini. Upaya manusia untuk menunjukan eksistensinya bisa dibilang sudah kelewat batas.

Ratusan bahkan mungkin ribuan pohon tumbang setiap harinya demi membangun sebuah jalan raya. Gedung-gedung pabrik berdiri gagah menggusur kebun dan sawah warga. Lubang-lubang bekas tambang yang menyerupai danau indah berwarna kehijauan menyimpan partikel logam berbahaya tak henti-hentinya meneror manusia.

Bukit, hutan diperkosa dan ditinggalkan begitu saja demi memenuhi kuota kelapa sawit. Di lautan, rusaknya ekosistem laut telah menjadi cerita lama yang masih kita abaikan hingga hari ini.

Mungkin nanti di akhir peradaban kita, jalan raya, hutan gundul, gedung pabrik, lubang tambang, dan lautan yang tercemar akan menjadi simbol eksistensi manusia. Berteriak dan mengabarkan entah kepada siapa, “Aku (pernah) ada di sini!”

(Penulis Rengga Satria)

0 Comments