GLOBAL ART FORUM LOCA | MENCARI PENANDA DI NORMAL BARU

menuju new normal


Global Art Forum - LocaInstitute.com | Mencari Penanda di Normal Baru. Sejak awal tahun 2020, kabar buruk terus seliweran menghiasi media massa. Tidak kurang dari 7,8 juta orang berjuang untuk bertahan hidup dalam infeksi virus yang kemudian kita kenal dengan nama Covid 19.

GLOBAL ART FORUM LOCA | MENCARI PENANDA DI NORMAL BARU


Pasien-pasien di rumah sakit membludak, berita kematian tidak pernah absen menemani keseharian kita, tenaga medis mulai kepayahan dan tidak sedikit pula yang menjadi korban.

Bak efek domino, virus ini juga menghantam sendi-sendi kehidupan lainnya. Ekonomi global berhasil dipukul K.O dalam hitungan bulan, pemutusan hubungan kerja (PHK) menjamur dan menghantui masyarakat.

Di Indonesia sendiri, tingkat kemiskinan melonjak tinggi. Alih-alih menjadi solusi, uluran tangan pemerintah justru menimbulkan masalah baru. Tidak meratanya bantuan dan salah sasaran adalah masalah klise yang belakangan santer kita dengar.

Umat manusia hidup dalam teror, dimana maut mengintai dalam jarak yang tidak begitu jauh, mungkin hanya beberapa meter atau jengkal dari pintu rumah Anda. Paranoid memaksa kita untuk mengurung diri di dalam rumah. Entah itu untuk bekerja, sekolah atau beribadah, pokoknya di rumah saja.

Dalam situasi mendesak seperti ini, seni biasanya mempunyai bahasa yang cakap untuk menyampaikan kegelisahannya. Sejarah juga mencatat, bagaimana karya-karya besar lahir dalam situasi hidup dan mati untuk kemudian keluar dari rahim tragedi.

Namun tentu tantangannya kini lebih berat. Di samping tuntutan untuk berkarya dan bertahan hidup, para seniman juga diharuskan untuk beradaptasi dengan protokol kesehatan yang kemudian dikenal dengan slogan Normal Baru.

Beberapa uji coba juga telah dilakukan oleh para seniman. Mulai dari pameran di dunia maya hingga diskusi virtual demi menjaga gairah berkesenian di tanah air. 

Namun pertanyaannya kini adalah, apakah hanya sebatas itu kita menyikapi tragedi ini?

Seni, Notula Jaman 


Pada awal kemerdekaan, setelah perjuangan dan proses negosiasi yang amat panjang, bangsa Indonesia akhirnya mendapat angin segar untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Terbebas dari penjajahan dan berdaulat 100%.

Momen itu dirayakan oleh segala lapisan masyarakat. Tak terkecuali para seniman di jamannya. 

Mural-mural berisi semangat untuk menyambut lembaran baru dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air ramai muncul di jalan-jalan. “Merdeka atau Mati!” yang dikutip dari penutup pidato Bung Karno “Lahirnya Pancasila” pada 1 Juni 1945 juga turut menghiasi gerbong-gerbong kereta.


Affandi pelukis
Affandi (Credit : Wikipedia)


Inisiatif serupa juga tercetus dari Bung Karno. Beliau secara khusus memesan kepada pelukis Affandi untuk membakar semangat perjuangan rakyat lewat bahasa seni. 

Dengan kolaborasinya bersama pelukis Dullah yang rela dijadikan model dan dibantu penyair Chairil Anwar sebagai copy writer, maka terciptalah sebuah poster ikonik “Boeng, Ayo Boeng”. 

Poster itu sendiri menggambarkan seorang laki-laki membawa bendera Indonesia yang berhasil melepaskan kedua tangannya dari belenggu rantai. Sebuah semiotika mentah yang berhasil membakar kembali semangat perjuangan dan kesatuan rakyat untuk melawan penjajah.

Sementara semboyan “Boeng, Ayo Boeng” yang dilontarkan secara spontan oleh Chairil Anwar diketahui kemudian terinspirasi dari kebiasaan para pelacur Jakarta dalam menggoda lelaki hidung belang.

Namun dibalik proses pembuatannya yang singkat dan terkesan spontan itu, poster ini berhasil menjadi penanda masuknya era baru bagi masyarakat Indonesia.

Seni rupa juga berhasil menjadi notula dinamika kehidupan masyarakat. Pada tahun 1975, pelukis Srihadi Soedarsono berhasil membuat Gubernur DKI Jakarta kala itu Ali Sadikin murka. 

Lewat lukisannya yang bertajuk “Air Mancar”, Srihadi memotret fenomena invasi modal Jepang yang menjamur subur di Ibukota. Tanpa pikir panjang, Ali Sadikin merespon lukisan itu dengan membubuhi coretan dan tulisan “Sontoloyo, Apa Ini Reklame Barang Jepang??

Aksi spontan Gubernur flamboyant itu mendapat banyak kecaman dari banyak pihak khususnya para seniman. Meski begitu, Ali Sadikin akhirnya sadar bahwa apa yang dilukiskan oleh Srihadi adalah realita yang harus ditelan bulat-bulat oleh Ali Sadikin.

Dua hal di atas adalah contoh bagaimana seni bisa dengan lihai merangkum sebuah momen dengan cara-cara yang elok dan mampu menggugah tidak hanya kalangan masyarakat namun juga seorang Gubernur sekelas Ali sadikin yang dikenal keras kepala. 

Hal itu pula yang tentu kita harapkan pada fase Normal Baru ini. Munculnya estetika baru yang diusung oleh seniman-seniman debutan dengan gagah berani dan mungkin nyeleneh sekalipun. Atau karya-karya yang bisa menjadi penanda bahwa kemapanan tatanan hidup manusia yang digdaya bisa dengan mudahnya diruntuhkan oleh virus hanya dalam hitungan bulan.

Penanda itu juga bisa menjadi memorial untuk kita berempati lebih dalam kepada ratusan ribu jiwa yang melayang akibat virus ini di kemudian hari. Juga memupuk semangat hidup umat manusia untuk memasuki tatanan hidup berikutnya dengan jargon “Normal Baru”, bukan hanya sebatas menyajikan atau menikmati karya seni lewat virtual belaka.


(Penulis Rengga Satria)

0 Comments